Diana Aman dan Sakitnya Sistem Peradilan Perdagangan Orang di NTT

 

Oleh: Elcid Li PhD* dan Pdt.Emmy Sahertian**

 

Hingga minggu ketiga Agustus 2018 sudah lebih dari 70 warga NTT yang pulang dalam peti mati. Biasanya, daripada mengusut kematian para pekerja, aparat negara cenderung untuk  menyebutnya sebagai kematian para TKI Ilegal. Ilegal dimaknai sebagai para pelanggar hukum, tak berdokumen, atau berdokumen asli tapi palsu (aspal). Dengan menyebut TKI ilegal, kematian mereka cenderung tidak diusut, bahkan dilupakan.

Aslinya tudingan semacam ini bisa dibantah, karena legal dan illegal maknanya semakin keropos di era perang dagang.  Skandal Diana Aman, buron besar pelaku perdagangan orang menyimpan aib sistem peradilan di NTT dalam penanganan bandar besar perdagangan orang. Kasus ini menyiratkan bahwa ketika makna legal sebagai simbol hukum negara hilang diterpa hukum dagang, maka legal atau pun illegal itu sendiri tidak lagi memilikki makna kategorial yang berbeda. Narasi di bawah ini merupakan contoh pupusnya legitimasi lembaga-lembaga peradilan yang menjadi simbol legalitas atau pelaksana elemen koersif negara. Tulisan ini tidak menyatakan bahwa tidak ada kemajuan dalam sistem peradilan, tetapi menyatakan bahwa semestinya kita bisa lebih baik lagi menyikapi bencana kemanusiaan ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem peradilan dalam kasus perdagangan orang di NTT hanya tajam pada para pelaku lokal, artinya para perekrut (termasuk PL, pemalsu dokumen, dan pegawai PPTKIS) di wilayah NTT saja yang dihukum, sedangkan bandar besar maupun majikan yang berasal dari luar biasanya lolos. Contohnya dalam Kasus Medan, hanya perekrut lokal–Rabeka  Ledoh–dihukum, sedangkan Mohar sebagai pelaku utama Mohar BAP-nya saja tidak pernah jadi, padahal dua korban meninggal dunia di Medan dan puluhan disekap dan diperbudak. Kasus ini muncul pada 2014.

Hal yang sama juga nyaris terjadi pada Diana Aman hingga 30 Agustus 2018. Dalam persidangan Diana terbukti merupakan pelaku perdagangan orang. Diana Aman pemilik sekaligus direktur PPTKIS besar, yaitu PT.Pancamanah Utama dan PT. Jaya Abadi. Kedua PT ini namanya buruk dalam menangani tenaga kerja. Jenasah Yufrinda Selan (19 tahun) dipulangkan dalam kondisi penuh jahitan dan dengan bekas lilitan di leher. Ia sempat diduga merupakan korban perdagangan organ.

Ketika pulang warga sempat kesulitan mengidentifikasi Yufrinda, sebab nama Yufrinda Selan tak ditemukan dalam dokumen pengiriman. Namanya telah dipalsukan menjadi “Melinda Sapai”. BP3TKI Provinsi NTT menolak untuk berkomentar, dan hanya menjawab bahwa ini TKI illegal, meskipun nama Melinda Sapai tercatat dalam daftar nama BP3TKI. Kasus Yufrinda Selan berhasil menyeret bekas polisi, aparat keamanan bandara El Tari hingga petugas imigrasi ke dalam tahanan.

Berkat kerja keras polisi, jaksa dan hakim sekian nama yang terlibat dalam kasus perdagangan orang masuk dalam kurungan. Sayangnya pelaku utama malah lepas. Namun, setelah buron selama belasan bulan, Diana Aman alias Diana Chia (Cia) alias Mom Diana, yang sudah diputuskan bersalah di Kupang sejak 2017 akhirnya tertangkap di Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatra Utara.

Tertangkapnya Diana Aman merupakan prestasi para pegawai imigrasi yang bertugas di Pelabuhan Teluk Nibung. Pemegang paspor dengan No.X405967 ini berhasil dilacak para petugas imigrasi yang bekerja di Kabupaten Asahan pada 30 Agustus 2018, karena mereka menemukan nama ini bertanda merah, tetapi tidak termasuk dalam daftar cekal. Berangkat dari keanehan ini para petugas imigrasi setempat berinsiatif mengontak pihak kejaksaan setempat dan menemukan bahwa nama ini adalah pelaku perdagangan orang yang sudah divonis in absentia.

 

Diana Aman: buronan atau hanya mangkir sidang?

Sebelum hilang Diana Aman adalah tahanan jaksa, dan berdasarkan penetapan hakim Diana Aman dijadikan tahanan kota. Sehari setelah statusnya diubah Diana raib ditelan bumi dari alamat terakhirnya: Hotel Sotis. Pengacara Diana Aman, Edwin Manurung dalam berita hanya biasa menyebut “No Comments” ketika ditanya ke mana Diana pergi. Di lain kesempatan Edwin Manurung dalam persidangan resmi menyatakan bahwa Diana Aman saat ini tersesat di Labuan Bajo dan Maumere (VN, 17 April 2017). Sedangkan  Jony Tanjung hakim anggota hanya menjawab demi alasan kemanusiaan status Diana Aman diganti. Konon Diana menderita gangguan jiwa.

Tahun 2017, ketika kami mewawancarai salah seorang polisi di Mabes Polri yang melakukan penangkapan terhadap Diana Aman, ia malah balik bertanya, “Mana ada orang sakit yang bisa memerintahkan lewat telfon kepada anak buahnya agar menghancurkan barang bukti dengan mesin penghancur dokumen sebelum kami tiba di TKP?”

Beberapa hal yang janggal terkait kaburnya Diana Aman antara lain: pertama, Diana Aman adalah buron besar yang ditangkap oleh Bareskrim Polri. Biaya penangkapannya menghabiskan uang ratusan juta rupiah. Karena sindikat Diana Aman tidak hanya berasal dari NTT, tetapi mulai dari rekrutmen di NTT, daerah transit di Jawa Tengah (Boyolali), hingga daerah tujuan di Malaysia.

Jika dimengerti biaya operasional penangkapan itu mahal, mengapa upaya penangkapan yang telah menghabiskan uang negara sebanyak ratusan juta rupiah ini malah diabaikan hakim. Pun ketika hakim ‘menganulir’ keputusannya sendiri untuk mengembalikan Diana Aman menjadi tahanan rutan, ibarat nasi sudah dibiarkan menjadi bubur, alias pelaku telah kabur percuma.

Kedua, Diana Aman merupakan terdakwa khusus. Ia tercatat sebelumnya sebagai ‘buron nakal’ yang juga melakukan tindakan menembakan peluru emas ke arah aparat penegak hukum dalam kasus serupa (perdagangan orang), sehingga ia bebas di Jawa Tengah. Dengan catatan ini, jika pihak aparat penegak hukum di Kupang tetap bersikap ‘tidak mau tahu’ menjadi tanda tanya besar. Ada apa?

Ketiga, meskipun Diana Aman kabur, diantara pihak kejaksaan dan kepolisian enggan berkoordinasi. Diana Aman memang menjadi buronan kejaksaan, tetapi ia bukan buronan pihak kepolisian. Pihak kepolisian beralasan bahwa pihak kejaksaan tidak pernah bersurat kepada mereka. Entah kenapa masalah rasa keadilan hanya menjadi alasan koordinasi antara polisi dan jaksa? Entah mengapa pihak kejaksaan tidak menolak penetapan hakim tentang status tahanan jika mengerti Diana Aman bukan  lah buronan biasa? Keanehan ini sudah pernah kami sampaikan secara lisan dan tertulis dalam kunjungan kami ke Polda NTT, Kejaksaan Tinggi NTT, Pengadilan Tinggi NTT, dan Komisi Yudisial.

Selanjutnya, seandainya Pak Hakim Nuril Huda dan anggota tim jeli, bijak, dan waspada, surat keterangan kesehatan itu tergolong kadaluwarsa karena dikeluarkan tahun 2016. Jika aparat penegak hukum mampu berpikir lurus, seharusnya mereka mengambil second opinion dari dokter lain di Kupang, bukan menggunakan kertas usang.  Hal vital ini tidak dilakukan di Kupang. Tidak becusnya kerja para hakim terlihat dari tidak adanya antisipasi atas keputusan mereka, dan hanya menjawab ‘tanggungjawab menghadirkan terdakwa adalah tugas penuntut umum’ ketika berbulan-bulan Diana Aman menjadi buronan.

Seadainya para hakim ini mau menambah informasi mereka bisa melakukan riset sederhana dengan menggunakan mesin pencari.  Ketik saja PT.Pancamanah Utama, dan keluar lah rentetan korban mereka. Salah satu korban adalah TKI dari Ponorogo, Jawa Timur dengan nama Fadila Rahmatika (20) yang bekerja di Singapura dan dipulangkan dalam kondisi disiksa dan trauma.

 

Bagaimana Diana kabur ?

Kini Diana Aman ‘sudah ditemukan’. Sekian spekulasi bagaimana ia kabur dan siapa yang membantunya kabur bisa dibuka untuk publik. Sekian kejanggalan yang seolah sengaja membiarkan Diana Aman bisa diusut. Tetapi, apakah mungkin sapu yang kotor mampu digunakan untuk membersihkan lantai yang kotor?

Di Tahun 2016, Polda NTT yang waktu itu masih bertipe B, mengeluarkan data perdagangan orang yang menyatakan 8 kepala manusia NTT dijual seharga satu mobil Avanza. Tahun 2017 dan 2018 Polda NTT yang sudah bertipe A, diam seribu bahasa terhadap hilangnya seorang bandar besar. Bareskrim Mabes Polri tidak dilibatkan ulang untuk mencari Diana Aman. Untuk apa kita berbangga dengan Polda tipe A, jika buronan sekelas Diana dibiarkan kabur tanpa upaya menangkap? Untuk apa punya kapolda bertitel Jendral jika buronan di depan mata hilang? Padahal, jika mau saja, Diana Aman tidak dibiarkan tamasya sekian lama tanpa diusut. Andaikan Interpol dilibatkan, Diana sudah bisa ditangkap sejak tahun lalu, karena nomor paspornya tidak berubah. Kenapa harus menunggu koordinasi kejaksaan, jika telah ada protes dari masyarakat sipil?

Pertanyaan serupa juga kami (aliansi masyarkat sipil) tanyakan kepala Pengadilan Tinggi di Kupang. Saat itu kami bertanya, “Mengapa kelakuan hakim tidak bisa diusut dalam kasus Diana Aman?” Ia menjawab bahwa itu adalah otoritas hakim, dan ia tidak berwenang mengusut. Jawaban semacam ini adalah jawaban normatif yang tidak sepantasnya diberikan dalam kasus extraordinary crime alias kejahatan luar biasa.

Seandainya para aparat sistem peradilan ini mau bergerak, tentu dengan tertangkapnya Diana Aman ini bisa dijadikan momentum untuk mengusut para pelaku yang terlibat dalam pelarian Diana Aman. Kasus terlibatnya Diana Aman dalam aksi perdagangan orang adalah satu kasus, sedangkan kasus proses pelarian Diana Aman adalah kasus tersendiri.

 

Ke Mana Air Kencing Diana Mengalir?

Jawaban secara harafiah atas pertanyaan sub judul di atas adalah air kencing Diana Aman mengalir ke mulut para korban perdagangan orang. Menurut salah seorang penangkap Diana Aman dari Mabes Polri, yang diwawancarai penulis pelaku tergolong biadab. Jika ada calon TKI yang protes, pelaku kencing dan memerintahkan para korban untuk meminumnya. Para korban pun meminumnya, dan disiksa jika menolak. Celakanya kencing Diana pula yang menjadi aib tahun ini yang harus dipikul aparat penegak hukum di NTT.

Diana Aman alias Diana Cia adalah pemain besar. Artinya dalam kasta perdagangan orang Diana mampu menembakkan “peluru emas” ke benteng pertahanan musuh dengan angka sembilan digit atau milyar. Angka miliar sebenarnya bukan lah hal istimewa. Sekian pengakuan off the record para penegak hukum yang menolak tawaran Diana samar tersampaikan dari dinding-dinding bisu.

Sejak kasus perdagangan orang menjadi sorotan publik upaya para pelaku untuk membebaskan diri juga semakin bernilai tinggi secara ekonomis. Bukti kegiatan ekonomi ilegal hanya mungkin bisa dibuka oleh PPATK (Pusat Pengkaji dan Analisa Transaksi Keuangan).

Siapa pun yang melepaskan Diana Aman tergolong berani. Sebab ia tidak hanya menghina sistem peradilan, tetapi menghina kapasitas orang NTT untuk berpikir. Secara harafiah ia turut bersama-sama Diana Aman mengencingi mulut orang NTT. Hingga saat ini amat jarang elemen koersif negara dalam kasus perdagangan orang mampu menyentuh para bandar besar yang umumnya berfungsi sebagai middle man utama, pada umumnya hanya para perekrut lapangan (PL) tingkat kota yang dipenjara. Setidaknya ada dua interpretasi yang muncul. Pertama, konsep perdagangan orang sebagai kejahatan jaringan kompleks kurang dipahami. Kedua, dengan menempatkan pelaku sekaligus korban hanya bersifat lokal semakin menunjukkan struktur tersembunyi kolonialisme (internal) yang sedang berjalan.

Zaman perbudakan sudah lama ditolak. Ketika kini perbudakan moderen dihidupkan kembali maka harus dilawan. Seperti di zaman kolonial, siapa pun yang menjadi antek kompeni VOC perdagangan orang adalah musuh. Siapa pun yang berpihak pada cukong dalam perdagangan orang adalah pengkhianat negara. Aparat penegak hukum harus bisa menjauhkan diri dari watak Soemanto: makan jenasah.

Di Abad ke XI Kediri, dapat terbaca bahwa dalam kajian ruang negara (mandala), posisi tucha (bandit) sama artinya dengan mechala (pedagang asing). Diana Aman adalah kombinasi antara mechala dan tucha. Seharusnya perwira negara tidak bermain diantara keduanya sehingga posisi legal itu ada.

 

*Peneliti IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change)

** Anggota BPP (Badan Pembantu Pelayanan) Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s