Casuarina Equasetifolia Tempatmu Bukan Di Sini

Oleh: Dominggus Elcid Li*

 

Setelah beberapa hari keluar kota, dan kembali ke Kota Kupang, saya kaget sendiri setelah melintas jembatan Liliba, puluhan Kasuari yang biasa mengitari ‘Bundaran PU’ sudah tidak lagi berdiri dengan ‘konde-konde’ mereka. Mereka menunggu mati, sambil berbaring di batu karang.

Orang Atoni memanggil Kasuari dengan nama ‘Ayo’ atau ‘Ajao’. Sedangkan oleh orang Eropa ia dipanggil Casuarina Equasetifolia. Nama yang indah dan kuat rasa feminin.  Mungkin ahli botani pemberi nama itu laki-laki, sehingga ia menyebutnya Casuarina.  Sepintas di telinga saya terdengar seperti Caterina. Seperti Si Katerina teman SD yang namanya diambil dari nama Santa Caterina. Ahli botani ini kemungkinan besar ia adalah laki-laki yang suka jalan-jalan keliling dunia. Dan mungkin sedang mengenang seorang perempuan ketika memberi nama Casuarina untuk pohon Ayo.

Meskipun kuat, nasib Kasuarina berbeda Flamboyan atau biasa dipanggil Sepe. Pohon Flamboyan adalah pohon menjelang Natal, bunganya berwarna oranye merah dan teramat mencolok dan ditanam sepanjang jalan utama Kota Kupang. Meskipun gampang patah, ditiup angin, Pohon Sepe lebih dicintai dan lebih ‘instagramable’ dibandingan Kasuarina. Kematian Kasuarina tidak menjadi berita, seadainya jika dibandingkan dengan kematian Flamboyan.

Kemarin, Genosida kaum kasuari terjadi di Taman Kota Bundara PU. Disebut Bundaran PU, karena di seberangnya dulu ada kantor PU Kabupaten Kupang, tetapi kantor itu sudah pindah ke pedalaman Timor, ke Oelamasi, lalu tanahnya telah dijual kepada Grup Lippo dan dijadikan Hypermart.

Di taman itu, beberapa tahun lalu pegawai bagian taman kota Kupang merasa bahwa tubuh Kasuari tak begitu cocok, ia terlalu jangkung dan bagi mereka kawanan ini tidak memilikki keindahan. Saat itu ide membunuh Kasuari dianggap terlalu radikal oleh para wartawan Kota Kupang, maka Kasuari di taman urung dibunuh. Selanjutnya, Kasuari diamputasi  7/8 (tujuh per delapan) bagiannya, dan dijadikan bonsai. Ia diubah menjadi tiang-tiang berkonde, yang tidak menari riang.

Hari ini puluhan Kasuari telah rebah ke tanah, konde-konde gulung mereka tidak lagi dianggap lucu dan indah. Kaki-kaki mereka dicabut dan dibiarkan sekarat: mati sambil menatap langit yang kosong. Padahal patung tiga orang yang sedang berdiri di taman itu sedang ‘mengajak menanam pohon’, dan bukan kematian.

Para Kasuari usia remaja adalah vegetasi asli tanah ini. Artinya tanpa usaha makluk berkelamin dan bermata, para Kasuari tumbuh sendiri. Ya, mereka tidak manja seperti PNS–sebab konon menurut beberapa teman, hanya PNS yang dipelihara oleh negara, tetapi orang miskin tidak.

Sebelum lupa, mari kembali ke Kasuari, Orang Dawan,menyebutnya hanya dan satu hentakan: ‘A-yo’. Ayo tidak ada artinya, lebih seperti ajakan untuk terus bergerak. Seperti misalnya ketika di musim kering, dan harapan sering pupus, tarian pohon Ayo adalah tarian dan nafas Orang Dawan untuk terus bertahan hidup. Meskipun ditiup angin kencang sekian knot, ia hanya melambai, dan menari. Ia teramat lentur, dan menyatu dengan angin. Sayangnya di tanah ini semua yang asli ingin diganti dengan yang ‘indah’ meskipun artinya sama dengan kematian.

Alkisah suatu waktu  saya pernah dengar Walikota terpilih, Pak Jeriko (Jefri Riwu Kore)  bercerita dalam satu forum bahwa alasan utama ia menghiasi kota ini dengan taman adalah supaya warna kota lebih terasa, sebab konon ia pernah merasa malu ketika menjemput tamunya dan membawanya masuk ke dalam Kota Kupang, dan sang tamu masih bertanya ‘Kapan kita sampai ke Kota Kupang’.

Tapi, pertanyaan saya, apa kita tidak malu, jika suatu waktu kita bertamu ke rumah warga, dan kebetulan sedang sakit perut, dan kita temukan bak airnya kering kerontang?

Kisah ini kisah nyata, dua tahun lalu disela mengumpulkan KTP dukungan untuk walikota Kupang dari calon indipenden, saya sakit perut. Saya pun meminta izin ke belakang. WC pemilik rumah ternyata kering kerontang, dan airnya tak ada. Memori itu saya coba putar ulang, saat itu wajah mereka tampak kebingungan, tapi tidak ada kalimat yang keluar ketika saya meminta izin ke belakang. Sang Bapak tampak pucat, karena sakit. Sementara wajah anak-anak tampak kusam.

Saya tahu di kota ini warga miskin jumlahnya banyak, tetapi tidak menyangka jika air pun tidak ada untuk cebok. Baru kali itu saya merasakan hal aneh, antara menahan haru dan berjaga agar tak mencret.

Tapi sudah lah, kita lihat saja siapa pengganti para kaum Ayo, para Kasuari di Bundaran PU, biasanya mereka diganti oleh yang indah tapi lapar air, dan yang tak mampu mencari air sendiri di balik tanah-tanah karst.

Bagi saya keindahan dimulai dari pantat. Apakah mungkin kota ini terlihat indah, jika kita tahu ada sekian warga yang tidak bisa cebok? Ya, seandainya ada perhatian untuk memperbaiki bak-bak kamar mandi, atau membuat bak air penampung. Di bagian ini pantat tetangga adalah bagian dari isu publik yang butuh kerja politik.

Samar-samar lagu Meraih Bintang untuk Asian Games 2018, muncul di youtube salah seorang teman bergema di ruang kantor:

Yo yo ayo… yo ayo Yo yo ayo… yo ayo

Yo yo ayo… yo ayo Yo yo.. ooo…ooo

Yo yo ayo… yo ayo Yo yo ayo… yo ayo

Yo yo ayo.. kita datang kita raih kita menang

 

Terus fokus satu titik, hanya itu titik itu

Tetap fokus kita kejar lampaui batas

Terus fokus satu titik, Hanya itu titik itu

Tetap fokus kita kejar dan raih bintang

 

Ayo. Yo. Ayo. Kapan ya Ayo bisa menari riang seperti lenggok Dik Via Vallen?

*Anggota Forum Academia NTT

 

 

One thought on “Casuarina Equasetifolia Tempatmu Bukan Di Sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s