Migrant Workers and Their Vulnerability to Human Trafficking: Understanding the Root Causes

Reported by Dr. Elcid Li

Institute Research of Governance and Social Change (IRGSC) sebagai mitra dari Wahana Visi Indonesia (WVI) melaksanakan survei Buruh Migran dan Antisipasi Terhadap Kerentanan Perdagangan Orang di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT.

Survei ini dilaksanakan pada tanggal 9-26 Mei 2018 di enam desa yang melingkupi tiga kecamatan di Kabupaten TTS yakni Kecamatan Amanuban Tengah (Desa Bone), Kecamatan Oelnino (Desa Neke dan Pene Utara) dan Kecamatan Kuanfatu (Desa Kuanfatu, Basmuti dan Kelle).

Berdasarkan hasil kajian penelitian IRGSC bulan Mei 2018 di Kabupaten TTS, NTT, Indonesia, maupun diperkuat hasil presentasi pemerintah desa, perwakilan gereja, tokoh adat, yang berasal dari wilayah 9 desa (Kelle, Kelle Tunan, Kuanfatu, Basmuti, Bone, Nekke, Pene Utara, Sopo dan Nobi-obi) di Kabupaten TTS pada tanggal 26 dan 27 Juli 2018, maka kami, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, persoalan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil merupakan hal utama yang harus menjadi perhatian bersama, dan untuk itu dibutuhkan perrhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten TTS, khususnya Pasangan Kepala Daerah Terpilih (2018-2022).

Upaya khusus itu perlu dilakukan untuk memastikan bahwa hak pencatatan kependudukan terbuka dan mudah untuk dijangkau oleh seluruh keluarga dari daerah paling pelosok hingga kota SoE. Tanpa dokumen administrasi dan kependudukan dengan sendirinya warga tidak dianggap sebagai `warga negara’ (stateless).

Pemenuhan hak kependudukan dan pencatatan sipil ini merupakan syarat utama mengendalikan migrasi berisiko yang mungkin dalam bentuk perdagangan orang, khususnya yang menyasar kabupaten secara khusus membuat pemetaan persoalan, dan pemetaan kapasitas untuk menyelasaikan persoalan administrasi kependudukan.

Berdasarkan hasil survei ini hanya 58,9 warga yang memiliki dokumen kependudukan ketika meninggalkan desa. Dokumen kependudukan yang dimiliki antara lain Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebanyak 66,1 persen, akta kelahiran sebanyak 56,7 persen dan yang menggunakan surat baptis sebanyak 88,1 persen.

Kedua, dampak migrasi tenaga kerja juga amat kuat dialami oleh keluarga inti. Persoalan seperti istri menikah baru di tempat kerja, atau suami menikah di tempat kerja, atau anak yang diterlantarkan, maupun hamil di luar nikah merupakan gambaran umum yang dialami oleh keluarga buruh migran.

Oleh karena itu penguatan keluarga buruh migran perlu dilakukan oleh segenap pihak khususnya oleh para tokoh agama, dan tokoh adat. Secara khusus Dinas Kesehatan Kabupaten TTS diharapkan proaktif untuk memetakan kondisi kesehatan reproduksi para pekerja migran, karena mereka amat rentan terpapar penyakit AIDS/HIV. Langkah ini perlu dilakukan secara terpadu, tanpa memberikan stigma kepada para pekerja.

Ketiga, tingginya angka perdagangan orang dari Kabupaten TTS perlu diantisipasi oleh Dinas Nakertrans Kabupaten TTS di antaranya dengan melakukan kerja sama dengan pemerintah desa untuk melakukan sosialisasi terpadu khususnya tentang cara aman untuk melakukan migrasi.

Keempat, angka migrasi yang tinggi sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 360 responden di tiga kecamatan, penduduk desa yang menjadi buruh migran sebagian besar berasal dari keluarga yang setiap bulannya berpenghasilan di bawah Rp 100 ribu, yakni sebanyak 28 persen.

Latar belakang sebagian besar keluarga buruh migran adalah petani atau sebesar 89,7 persen. Faktor ekonomi diakui sebagai faktor utama yang membuat orang pergi (96,4 persen).

Rendahnya tingkat pendapatan warga di desa ditemui dengan minimnya uang tunai yang diperoleh per keluarga di tingkat desa menunjukkan perlunya upaya khusus untuk meningkatkan pendapatan keluarga-keluarga miskin yang berdiam di desa.

Upaya menghidupkan Bumdes, dan pengembangan model-model alternatif pertanian lahan kering amat dibutuhkan. Sebanyak 77,8 persen responden menyatakan pekerjaan di tempat rantau lebih besar dibandingkan mengolah lahan pertanian di kampung. Alasan lain yang membuat mereka memutuskan untuk pergi adalah mencari pengalaman (46 persen) dan mencari uang sendiri (34 persen).

Kelima, sektor pendidikan membutuhkan prioritas perhatian pemerintah. Penduduk yang melakukan migrasi untuk berkerja ke luar daerah rata-rata berusia produktif. Sebanyak 40,3 persen pelaku migrasi berusia 19 hingga 24 tahun. Bahkan, ada pelaku migrasi yang masih di bawah umur atau berusia anak.

Hasil survei menunjukkan 20,6 persen pelaku migrasi dengan rentang usia 15-18 tahun. Khusus untuk migrasi anak menunjukkan posisi anak yang sangat rentan selain untuk menjadi pekerja anak, tetapi juga menjadi korban perdagangan orang (human trafficking). Kabupaten TTS merupakan salah satu kantong korban perdagangan orang.

Dari mereka yang berangkat bermigrasi lulusan SD dan SMA ada di peringkat paling atas atau keduanya sama-sama ada dalam posisi 25,6 persen, disusul dengan tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 22,8 persen.

Selain itu sebanyak 39 orang (41,5 persen) dari mereka yang putus sekolah disebabkan karena karena tidak ada biaya. Alasan lain, mereka yang putus sekolah karena malas sebanyak 9 orang (28,1 persen), dan 7 orang (21,9 persen) putus sekolah karena sakit.

Minimnya keberadaan guru yang berkualitas , fasilitas sekolah yang mendukung, maupun jauhnya akses terhadap fasilitas pendidikan dari rumah anak-anak telah membuat angka putus sekolah tinggi, dan rendahnya kualitas pendidikan yang diterima anak-anak.

Alasan utama pelaku migrasi untuk pergi adalah karena Informasi mengenai gaji tinggi dan mudah mencari kerja di daerah rantau. Pemetaan sarana dan prasarana fasilitas pendidikan di lingkup Kabupaten TTS adalah mutlak. *

 

This entry was posted in Uncategorized on by .

About indosasters

Blog ini mempromosikan konsepsi tentang "Disaster Society" (Masyarakat Bencana); yang bisa didefinisikan sebagai masyarakat yang sadar akan kebencanaan lokal dan global; bahwa sebuah bencana lahir karena kerapuhan geologis & klimatologis berubah jadi hazard (gempa, tsunami, vulkanik, siklon, banjir, longsor), yang akan bekerja pada konteks kerentanan ’sosiologis’ (sosial, ekonomi, fisik, finansial dan lingkungan). Indosasters ditujukan untuk menjadi kumpulan opini, artikel, informasi dan perkembangan mengenai diskursus dan praktek management bencana Indonesia. Dikelolah langsung oleh Jonatan Lassa tetapi dimaksudkan untuk mempromosikan studi bencana dalam bahasa Indonesia. Paham yang dipakai adalah "radical pluralist" dalam pendekatan dan analisis bencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s