Kasim Fallo, Mama Manek, dan Mereka yang tak Pernah Kembali

Oleh: Elcid Li*

‘Coba pergi ke belakang kantor, orang tua itu bisa tutur!’ kata Ma Orta, perempuan dengan gagang kacamata yang patah memberi saran.

Siang itu kami bertamu dan bertemu dengan lelaki berperawakan pendek. Istrinya yang berambut tipis menggunakan penutup kepala datang membawa empat kursi plastik. Bapak yang kadang diminta oleh Mama Kalake menebang pohon di halaman kantor namanya tak pernah kami tahu. Ia jarang bicara.

Namanya Kasim Fallo. Orang Eban. Ia sedang membuat kandang ayam. Ayamnya turun 9, dari sepuluh butir telur. Kami duduk di depan rumah bebak. ‘Tanah ini milik orang Arab, yang di depan tanah milik orang Sabu,’ kata istrinya yang kami panggil Mama Fallo. Rumah itu bersih. Kintal depan rumah itu tampak disapu, dan rumput-rumput tak ada di sela ribuan pohon turis yang mereka tanam. ‘Kita ini tinggal di kota, jadi harus bersih, kadang saya harus bersihkan sampah orang di depan, sudah beberapa minggu ini saya tidak jual sayur, abis bagaimana mobil mereka tutup kami punya warung?’ kata Mama Fallo menggugat kelakuan para tim sukses seorang calon gubernur NTT yang berumah di depan rumah mereka.

Mama Fallo memang lebih banyak berbicara dibandingkan Bapak Kasim. Perempuan ini yang menjelaskan siapa keluarga Fallo. Bapa Kasim seperti tiang rumah yang kokoh yang tidak bergerak, dan Mama Fallo adalah atap rumah yang terbuat dari ilalang yang menari dan ditiup angin. Lincah bergerak melengkapi.

‘Jadi maksudnya apa?’ tanya Bapa Kasim. Kami menjelaskan tentang kematian beruntun yang datang tanpa henti. Kami minta agar ia mendoakan dalam Bahasa Dawan dalam ritus Rabu Ratapan, agar mereka yang pergi tak begitu saja dilupakan. Ia setuju.

Semula kami beranggapan ini adalah simulasi. Ia perlu membayangkan dan menuturkan. Namun anggapan ini dibantah oleh Mama Fallo. “Di sini tempat tinggal Maria Gorety Mamo, anaknya ada di Oesapa, dan di sebelah sana, di depan sana tempat tinggal Adelina Sau, dia dulu jaga fotokopi di ujung jalan,” katanya.

Empat tahun sudah kami bekerja mengumpulkan data perdagangan orang. Dan siang itu terasa cukup aneh. Di Kupang ini ada ratusan ribu orang Dawan. Dan bisa saja Mama Orta menyebut nama siapa pun. Tapi mengapa usulnya menyambungkan kami dengan Maria Gorety Mamo dan Adelina Sau. Nama yang terakhir mati di Malaysia setelah disiksa di Penang dan dibiarkan tinggal bersama anjing. Sedangkan Maria Gorety Mamo jenasahnya sudah dibawa pulang, namun anaknya masih tertinggal di Malaysia tanpa dokumen kependudukan apa pun.

‘Bapa tua pasti su lupa,’ kata Mama Fallo pagi kemarin ketika kami datang menjemput Bapa Kasim. Pagi-pagi sekali ia sudah ke pasar Oeba. Di atas sampah-sampah plastik, ikan-ikan kota Kupang mendarat. Di pinggir pantai yang sudah tidak kelihatan pasirnya itu karena tertimbun pantai plastik kami mencari Bapa Kasim. Ia tidak ada. Mama Fallo pun pergi. Masuk ke dalam pasar mencari suaminya.

Sepasang suami istri itu datang. Bapa Kasim bawa ‘ikan makan’. Hari itu ia tidak jual. Artinya ikan yang tidak dijual untuk makan si penjual. Di Kupang, jika anda akrab dengan pesisir dan tak punya lauk untuk makan, cukup bawa ember dan pergi ke perahu (biasa disebut bodi) yang merapat pagi-pagi, dan ikan makan hari itu pasti ada. Tidak perlu bayar, cukup sebut ikan makan.

‘Saya juga ikut,’ ujar Mama Fallo. Ia menyebut anaknya ada empat. Satu orang menamatkan seminari menengah (sekolah calon pastor setingkat SMA) di Denpasar, dan hingga kini ijasahnya masih tertahan di sana. Ijasah itu harus ditebus 2,5 juta. Saya ingat tentang cerita para diakon (calon Imam/Pastor) yang hampir putus sekolah seminari karena orang tua tidak mampu bayar uang sekolah. Kondisi ini cukup aneh. Pastor itu pekerjaan melayani umat, tetapi mengapa mereka yang ingin melayani sepanjang hidup pun harus membayar dari kekurangan.

‘Ya ini kami pung salib Pak!’ tutup Mama Fallo. Mantan seminaris itu kini bekerja dengan pengusaha ‘ter’, dan ketiga adiknya masih sekolah.

Telfon dari Mama Manek
Hujan turun dengan derasnya. Mendung tadi pagi saat Rabu Ratapan dijalankan oleh puluhan elemen aksi lunas sudah. Air turun, menyirami tanah kami yang kering. Di tengah deru suara hujan, telfon masuk.

‘Kami bisa ke kantor ko, ini Demus pung Mama,’ sebut suara di ujung telfon.

Demus adalah salah satu relawan terkecil saat kami bekerja untuk calon indipenden Wali Kota Kupang. Ia celaka saat memakai kaos Viktori (kami membedakan viktori pakai ‘I’ untuk independen). Ia ditendang dari belakang, oleh orang tak dikenal dan terjembab di jalan raya. Pelaku hanya menyebut ‘lu liat e’. Calon walikota kami dikerjai saat verifikasi. Seluruh partai politik, KPU, media massa dan Panwaslu bersatu memenangkan orang-orang besar berduit. ‘Kalau kita lolos, pasti lain e,’ ujar Demus saat kami bertamu ke rumahnya dan meminta tolong Mama Manek dan teman-teman Manek untuk ikut dalam ritus Rabu Ratapan.

Mama Manek ingin datang ke kantor, tetapi hujan deras sekali. Mama Manek tinggal di Tofa. Di lingkungan orang Noemuti. Migrasi orang-orang dari pedalaman Timor, atau pun warga dari pulau lain, biasanya seperti memindahkan kampung ke kota. Mereka tinggal berkelompok. Ini salah satu sebab yang membuat Kota Kupang punya ciri sendiri, kota tidak pernah menjadi sesuatu yang anonim. Tenunan kekerabatan melekat erat.

Mama Manek dan kelima orang Ibu-Ibu dari Tofa lah yang meratap dengan Bahasa Dawan, etnis terbesar di Timor Barat, dalam aksi Rabu Ratapan di depan peti-peti mati. Dari kelompok etnis ini lah nama-nama seperti Nirmala Bonat, Yufrida Selan, Dolviana Abu, Marni Baun, Rista Bota, Yenny Fuakan berasal.
‘Kami bisa ke kantor ko, ada kami punnya adik di Ipoh yang tidak bisa keluar dari rumah majikan, paspornya hilang, bisa bantu ko?’ tanya Mama Manek tadi malam.

Maria dan Martha
Pagi kemarin di tengah aksi lima orang kawan pergi karena harus menyelamatkan beberapa anak perempuan yang hendak dikirim jadi TKW. Mereka pergi di tengah aksi di halaman Polda NTT. Di tengah Brimob bersenjata yang dengan garang menghela pagar besi dan membuat kawan-kawan mahasiswa meradang. Sejak rapat aksi semalam kami putuskan agar barisan depan di-isi oleh rakyat jelita. Mereka yang berada di garis depan pagar besi, ketika Andreas brimob jemaat dari Talitakum menarik keras pagar besi di depan kami menutup pintu kantor Polda NTT. Pendeta Emmy, pendeta senior beruban, yang kepanasan sempat berteduh di pos jaga dan berujar ‘Itu yang di depan kita pung jemaat’. Mungkin karena itu ia tidak keluar lagi dari pos jaga.

Para pemuda Cipayung plus yang baru dipentung sehari sebelumnya bukan pilihan yang baik menjelang Kamis Putih untuk berada di garda depan. Aksi ini sudah minta untuk dibatalkan oleh beberapa kawan lain karena berdekatan dengan Paskah. ‘Apa bisa dibikin setelah Paskah?’ Dan kami menjawab ini Rabu Ratapan. Ada lagi yang bertanya sendiri, “Apakah kamu bisa menemukan Kristus di tengah kemanusiaan yang mati?”
Malam tadi, Mama Manek menelfon tentang saudaranya di Ipoh, Perak yang harus diselematkan. Dokumen dan alamatnya sudah didapat. Kerja selanjutnya menyambungkannya dengan Konjen setempat. Infrasturktur migrasi semacam ini lah yang masih minim. Imajinasi tentang migrasi belum lah ada. Mereka tak punya jaringan yang membantu mereka. Kemenlu geraknya terbatas. Saya ingat ucapan seorang sahabat yang berujar ‘Kamu bisa bayangkan bagaimana katak yang selama hidupnya tinggal di bawah tempurung, dan tiba-tiba ia langsung duduk di atas tempurung?’

Kata orang hidup itu seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Tetapi bagaimana jika hidup itu nasibnya sama dengan roda meriam di got? Selamanya tidak berputar, dan selamanya tergenang air comberan?

Bulan ini sudah 23 orang NTT yang mati. Ini masih Maret, bulan ketiga. Apakah tahun ini kita akan menerima 100 jenasah?
Setiap kali Suster Laurentina PI, dan Pdt.Emmy Sahertian ‘mengajak’ ke cargo bandara untuk menjemput jenasah saya bertanya ‘kapan ini berakhir’ dan bertanya ‘apakah ada bedanya antara pergi menjemput atau tidak adakah ada bedanya’. Bukankah mereka tidak bisa bangun lagi dengan kepergian saya. Di saat yang sama kedua perempuan yang dalam imajinasi kusebut ‘Maria dan Martha’ ini juga memberikan catatan sosiologis tersendiri. Lagi-lagi ini tentang homo sacer. Lagi-lagi tentang tulisan Arrendt tentang holocaust di Auschwitz, tentang pembantaian di. Tentang hidup tanpa negara, tanpa hukum, hidup tak ada artinya.

Para budak adalah orang di luar negara, di luar polis atau negara kota (city state). Hidup mereka tak ada artinya. Sejelek apa pun kita harus punya Negara. Negara berfungsi dengan tata rasa keadilan, dan bukan dikendalikan oleh selera pasar. Pasar seharusnya tidak terlepas dari ruang sosial. Amartya Sen, pemenang nobel ekonomi itu, bisa menjelaskan dengan lebih baik. Bukankah good life harus diperjuangkan agar setiap orang menemukan telos-nya untuk kalian yang mengikuti garis Aristoteles? Bukankah tubuh manusia lain yang pulang dalam peti harus diziarahi agar ia tidak menjadi seonggok material semata, tetapi tetap lah menjadi manusia? Bukankah dengan memberi makna pada setiap tubuh maka engkau pun tidak berubah menjadi monster raja tega?

Siang itu setelah terpanggang lima jam di bawah matahari. Kami duduk di depan meriam. Mama Maria Hingi mantan TKW di Singapura menyumbang beberap plastik besar pisang rebus dan ubi. Uang arisan seluruh elemen aksi tak cukup untuk beli nasi bungkus untuk semua, hanya cukup beli air minum. Pisang dua biji cukup untuk mengganjar perut.

Duduk di samping kiri saya dari tadi seorang Ibu yang saya tidak tahu namanya. Ia dari setengah jam yang lalu mengomel ‘kenapa itu Gubernur tidak keluar’. Saya diam tidak menjawab, membiarkan ia bicara. ‘Mereka tidak peduli dengan kami punya nasib ko?’ tanyanya lagi. ‘Saya sudah bilang sama anak-anak mahasiswa itu seharusnya tombol itu tidak ditekan, tapi mereka mana mau dengar saya?’ katanya lalu melanjutkan ‘Harusnya pintu itu dibuka dan kita masuk, mereka enak-enak duduk di ruang AC, tidak mau keluar ketemu kita, manusia macam apa?’ Ia masih berharap bertemu dengan Gubernur. Tetapi saya tak menjawab. Saya tak tahu ini siapa. Sampai sekarang tak tahu namanya. Saat pembagian pisang rebus baru Mama Maria Hingi menyebut ‘Dia TKW juga, korban, sampai sekarang gajinya bertahun-tahun tidak dibayar’. Kami diam duduk di samping meriam, dan makan pisang rebus.

Ya aksi tidak merubah banyak hal tentang perdagangan orang. Tetapi mengenal para pemuda dan kawan-kawan baru dengan segala kekhasan adalan bonus. Semoga mereka tidak jadi penghianat, semoga setelah dewasa mereka tetap menjadi tuan dan puan untuk diri sendiri! Semoga mereka tidak menjadi air comberan, tetapi menjadi air hidup!

Saat jalan kaki dan menyanyikan lagu Darah Juang bersama generasi 2018 dari atas aspal panas membawa kenangan tentang Wawan yang meninggal di Semanggi 20 tahun silam. Selain itu muncul jelas ingatan tentang Jogja yang waktu itu masih menjadi salah satu kiblat pergerakan mahasiswa.

Reformasi menjadi catatan pahit tersendiri. Sebab antara mereka yang mengaku Soehartois dan Soekarnois tiba-tiba serupa. Duit adalah segala-galanya, dan pesan yang disampaikan dalam setiap temu adalah kematian bisa diselamatkan dengan duit. Retorika kompeni pemburu rente sekarang jauh lebih pahit, karena pelakunya bisa kawan sendiri. Kawan sendiri bisa menjadi centeng. Kawan sendiri bisa menjual kawan. Orangtua sendiri bisa menjual anak. Pacar sendiri bisa menjual gadis yatim piatu. Pejabat bisa menjual jabatan.

Semoga logika kita tidak terlilit dalam tirani dagang, dan tak berat kala menghela nafas.

Selamat merayakan Kamis Putih!

Kupang, 29 Maret 2018
*Peneliti perdagangan orang di era reformasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s