Politik Dalam Selimut

Musuh dalam selimut – Sumber WP.com

Dominggus Elcid Li

Orang miskin dilarang ribut. Kalau ribut berarti bukan orang miskin. Demokrasi hanya untuk orang kaya, dan punya duit. Sambil tersenyum lebar anggota KPU NTT membagikan no Pilkada kepada para peserta. Ibarat para pelari karung yang siap berlomba masing-masing peserta pasang kuda-kuda. Di depan kamera semua harus gagah dan bahagia. Kalau tidak yakin, ada lembaga survey yang bisa disewa. Tinggal sebut harga, hasil bisa diatur dengan metodologi yang pas. Menipu pun harus ilmiah–dan diliput. Di era reformasi etika penelitian maupun kode etik peneliti cenderung cair seperti cirit ayam ketika berhadapan dengan pasar pemilu atau pilkada.

Doublethink

Pesta politik adalah pesta para penipu. Mereka yang pernah menjadi penipu pasti paham trick yang dipakai dalam tipuan. Sayangnya di era yang katanya sudah canggih dan moderen ini orang juga suka ditipu. Tidak peduli gelar dan kastanya apa, trick menipu dilakukan secara kolektif alias dalam formasi tim sukses–entah sukses atau tidak, itu urusan belakang, yang penting saat ini dianggap sukses.

Salah satu hal yang perlu dibiasakan dalam berdemokrasi di era penipu adalah membiasakan diri untuk menggunakan logika doublethink alias berfikir ganda. Istilah ini saya ambil dari George Orwell dari bukunya 1984. Kala itu Orwell resah terhadap perkembangan politik yang semakin mengekang kebebasan warga negara. Para petugas partai dia sebut adalah orang-orang yang berkuasa dan menjadi makhluk pengontrol wacana. Untuk selamat, ia melatih diri untuk menafsirkan setiap pesan dalam garis logika kedua. Garis logika pertama adalah bahasa normatif. Sedangkan garis logika kedua adalah bahasa yang tersirat, yang menunjukkan maksud sesungguhnya.

Nah, di depan publik orang biasanya percakapan hanya ada di garis pertama. Para kuli tinta pun jarang yang mencoba masuk ke garis kedua. Pertanyaan biasanya hanya berhenti di garis pertama. Komentar-komentar normatif yang biasa dipilih, tidak berarti tetapi tetap harus dibaca dan ditelan. Tidak ada kuli tinta yang mau melangkah ke garis kedua, kecuali dia adalah tim sukses terselubung. Pun sekarang semangkin sulit, jika kita membuka tipuan bisa dituntut kalau yang dibuka adalah aib anggota hewan.

Jika membaca berita kita pun perlu sigap bertanya, mengapa hanya ini yang dimuat, dan sisanya dibuang dan hanya menjadi ‘rahasia perusahaan’. Biasanya pedagang memilih untuk tidak memiliki musuh, yang penting laku. Jika laku, saku ada isi. Sederhana.

Dalam kecenderungan umum logika kritis semakin tidak laku untuk dipakai. Sebab hanya mencari musuh, dan pasti rugi dalam kacamata pemasaran. Istilah para pemimpin perusahaan ‘kenapa cari karja’ atau ‘kanapa cari pakariang’. Bukankah kalau semua dapat bagian dan senang, maka persoalan tidak perlu diada-adakan. Dan dosa juga dianggap tidak ada, karena tidak banyak yang tahu, kecuali satu dua orang di lingkar inti.

Yang paling lucu kalau kita baca berita ‘Si kancil tidak bermoral’, ‘Si ayam ini brengsek’, dan ‘Si kura-kura orang baik’. Ya, semua penjual kecap harus serius menjajakan dagangannya, tapi jangan lah terlalu serius. Malu.

Bicara soal kemaluan. Biasanya ini dianggap barang privat. Namun akhir-akhir ini orang cenderung hilang kemaluannya. Kok Vitalitas lahir dari kemaluan. Daya hidup juga lahir dari situ. Akhir-akhir ini kemaluan sering hilang dalam gerak manusia, daya hidup juga cenderung hilang. Antara nikmat, gila dan hidup bedanya tipis.

Jika memandang gambar-gambar di pohon, dan di surat kabar seolah itu semua menyatakan bahwa kita ini punya pilihan. Ya, pilihan untuk memilih. Tetapi tidak untuk ‘dipilih’. Mereka yang boleh dipilih ada dalam kasta tertentu. Punya duit, bisa bicara, dan bisa menipu.

Humor Pilkada
Di saat seluruh daya upaya sudah dikerahkan, tapi orang yang dimaksudkan untuk ditipu tidak juga tertipu di situ politik menjadi tidak lucu lagi. Menjelang detik-detik akhir biasanya segala cara akan dikeluarkan. Apalagi ketika pertarungan para orang besar ini ada dalam kompetisi ketat alias head to head. Di situ kita akan lihat, tim sukses yang sebelumnya penuh canda tawa lepas tiba-tiba lepas kendali. Orang menjadi mudah ngamuk, mudah menuduh, dan bahkan berniat membunuh. Kok bisa hanya tipu-tipu bisa dibawah ke pembunuhan? Ketika nalar tidak bisa dipakai, maka ketakutan lah yang menjadi panglima.

Sebagai penonton yang setia di garis lucu di titik ini lah kita perlu hadir dan terlibat aktif untuk menjaga agar para tim sukses tetap lucu dan bahagia. Politik tukang tipu adalah politik dalam selimut. Selamat mencari musuh—karena musuh sangat lihai bersembunyi.

This entry was posted in Uncategorized on by .

About indosasters

Blog ini mempromosikan konsepsi tentang "Disaster Society" (Masyarakat Bencana); yang bisa didefinisikan sebagai masyarakat yang sadar akan kebencanaan lokal dan global; bahwa sebuah bencana lahir karena kerapuhan geologis & klimatologis berubah jadi hazard (gempa, tsunami, vulkanik, siklon, banjir, longsor), yang akan bekerja pada konteks kerentanan ’sosiologis’ (sosial, ekonomi, fisik, finansial dan lingkungan). Indosasters ditujukan untuk menjadi kumpulan opini, artikel, informasi dan perkembangan mengenai diskursus dan praktek management bencana Indonesia. Dikelolah langsung oleh Jonatan Lassa tetapi dimaksudkan untuk mempromosikan studi bencana dalam bahasa Indonesia. Paham yang dipakai adalah "radical pluralist" dalam pendekatan dan analisis bencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s