Perkembangan Pertanian Alor 1970an-2015 [1]

IRGSC Brief #18, 2018.

Selain kenari, Alor pun dikenal dengan pulau jagung. Kombinasi jagung titi dan kenari memberikan efek nikmat karena ditriggernya dopamine, bagian otak yang memberi rasa nikmat. Jagung menjadi bagian dari tradisi orang kepulauan ini. Merasakan jagung titi dan kenari pertama kali karena tetangga kami pindah dari Alor tepatnya 35 tahun lalu. Selain jagung, Alor pun dikenal dengan kue rambut yang terbuat dari tepung beras. Dua komoditi ini baik beras maupun jagung dengan demikian menjadi bagian dari food culture orang Alor.

Lalu bagaimana kondisi pertanian di Alor dalam 60 tahun terakhir? Data yang mampu kami selamatkan sementara hanya 45 tahun terakhir. Di Tahun 1971, produksi padi di Alor berkisar 6,448 ton dengan penduduk sekitar 123 ribu (setara 52.4kg/orang/tahun).  Pertumbuhan penduduk Alor dalam 45 tahun terakhir adalah 1.5 persen. Menariknya, produksi padi perkapita di tahun 2015 adalah 58.4 kg/orang/tahun (total produksi 2015 11,642 ton dibagi 199 ribu penduduk). Walaupun terjadi kenaikan karena meningkatnya produktifitas (walau masih tipis di bawah rata-rata NTT – Lihat gambar di bawah) maupun kenaikan areal persawahan yang drastis. Sebagai misal, total luasan persawahan irigasi di tahun 1970an awal adalah 102 ha. Sedangkan total areal persawahan dengan irigasi teknis di 2015 mencapai 397 ha. Berarti terjadi lonjakan 295 ha atau setara 289 persen dalam 45 tahun (6.5 persen pertahun). Sedangkan padi tadah hujan berkembang dengan rerata 1.3 persen pertahun.

Yang sangat menarik adalah luas areal jagung mengalami penurunan dari 7150 ha di tahun 1973 menjadi 6459 di tahun 2015. Namun produksi mengalami kenaikan secara berarti akibat kenaikan produktivitas yang meningkat dari 1 t/ha di tahun 1970an awal dan mencapai 1.92 t/ha di tahun 2015. Menurunnya areal jagung (dengan laju 0.2 ha pertahun) dan sebaliknya meningkatnya areal sawah ini menjadi pertanyaan yang menarik. Minimal dua hal yang perlu ditanyakan: Pertama apakah terjadi substitusi dari jagung ke sawah? Kemungkinan ini kecil mengingat kecilnya laju perubahan areal jagung dibanding sawah. Pertanyaan kedua adalah apakah terjadi perubahan iklim lokal yang justru positif dari yang kering menjadi?

Secara umum menarik melihat bagaimana pulau kecil berkembang mengembangkan areal persawahan baru. Sebuah trend yang terbalik dibanding Pulau Jawa dan tempat-tempat lainnya yang mengalami perkembangan perkotaan. Tentu ini bukan guyonan. Karena di beberapa titik, kondisi ekosistim lokal menjadi lebih ramah pada persawahan. Salah satu diskusi yang sempat saya publikasikan bisa dilihat di Lassa (2012) Jakarta Post.

Screen Shot 2018-02-11 at 7.09.11 PM

 

Jagung

Suggestion for citation: Jonatan A. Lassa, Randy Banunaek 2018. Perkembangan Pertanian Alor 1970an-2015 [1]  IRGSC Brief #18, IRGSC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s