Trend PDRB NTT 1958-2017

Suggestion for citation: Jonatan A. Lassa, Randy Banunaek 2018. Long term trend of Gross Domestic Regional Product NTT.  IRGSC Brief #16, IRGSC. 

IRGSC Brief #16 Trend PDRB NTT 1958-2017

Jonatan A. Lassa (CDU) and Ranie Banunaek (IRGSC)

Bukan hal yang baru soal menurunnya kontribusi pertanian dalam struktur ekonomi Indonesia. Sebagian penduduk Indonesia telah beralih menjadi orang kota. Sektor yang lain yakni sektor industri manufaktur, konstruksi, jasa swasta (pendidikan, kesehatan, sosial) serta sektor keuangan menjadi primadona baru.

Bagaimana dengan NTT? Secara ringkas, secara proporsional, pertanian menurun secara konsisten (data pertumbuhan antar sektor akan dikeluarkan dalam buku 60 Tahun NTT) dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Dalam lima tahun terakhir, sektor pertanian bertumbuh secara rerata di bawah tiga persen saja. Perlambatan di sektor pertanian di substitusi dengan percepatan di sektor lainnya termasuk sektor yang berkembang baik termasuk konstruksi, perdagangan, transporasi dan IT dan sektor pemerintah bertumbuh di atas 6 persen. Lima tahun terakhir terjadi lonjakan di sektor jasa swasta maupun IT (Gambar atas).

Pertumbuhan yang tidak dikehendaki adalah menonjolnya sektor pemerintah sebagai sektor nomor dua setelah pertanian dalam kurun waktu akhir tahun 70an (paska oil booming Indonesia?) hingga awal 2010an. Mengapa dominasi sektor pemerintah tidak dianggap sebagai hal yang positif? Banyak hal, namun umumnya ekonom mengkritisi hal ini karena pertumbuhan di sektor pemerintah ibarat pagar makan tanaman karena dampaknya bagi ekonomi mungkin sekedar mendorong konsumsi tanpa penciptaan lapangan kerja di sektor riil dan sektor lainnya. Kritik ini juga disampaikan Prof. Budy Resosudarmo dalam perhelatan NTT Expo dan Conference, Desember 2017 silam di Kota Kupang.

Screen Shot 2018-01-31 at 8.51.54 pm

Sumber; Tim data IRGSC, diolah dari BPS NTT 1971-2017. (Catatan: Sektor Transportasi dan Communication disatukan karena melekat pada sistim data BPS dalam waktu yang lama.)

Sektor jasa (swasta) naik secara berarti dalam 10-12 tahun terakhir (Gambar atas dan bawah). Sektor konstruksi merupakan sektor yang paling konsisten perkembangannya selama 50 tahun terakhir. Dalam lima tahun terakhir, sektor ini bertumbuh secara rerata di atas 6.5 persen. Sedangkan sektor yang paling volatile adalah sektor perdagangan. Walaupun penting, ini tentu harus dijelaskan dalam kesempatan lain.

Sedangkan sektor lainnya yang tumbuh secara inkremental namun relatif kecil adalah sektor keuangan  termasuk perbankan dan pertambangan. Sedangkan sektor perumahan masih dianggap rentan karena gairah sektor ini di tahun 1990an tidak kembali ke titik pra krisis 1998.

Screen Shot 2018-01-31 at 8.50.55 pm

Sumber; Tim data IRGSC, diolah dari BPS NTT 1971-2017. (Catatan: Sektor Transportasi dan Communication disatukan karena melekat pada sistim data BPS dalam waktu yang lama.)

Yang patut di catat adalah tumbuhnya sektor pelayanan pemerintah terutama dalam 40 tahun terakhir dan mendominasi sektor lainnya dalam waktu yang relatif lama (1980an-1990an) serta paruh 2000an-2010 merupakan refleksi dari menguatnya kekuatan pemerintah Indonesia terutama sejak awal abad 21. Sepuluh tahun terakhir memberikan harapan yang menyenangkan bagi sektor konstruksi, keuangan dan Sektor transportasi dan IT; Menjamurnya ruko-ruko di kota kupang sering disebut sebagai bukti anekdot yang lain. Sedangkan bisnis penginapan mengalami lonjakan yang bagus dalam lima tahun terakhir dengan pertumbuhan di atas 6-7 persen walau secara proposional hanya mendapat porsi 3.6 persen dari total PDRB NTT.

Bersambung!

Screen Shot 2018-01-31 at 8.51.54 pm

Note. Catatan ini bagian dari proyek IRGSC untuk 60 Tahun NTT.

This entry was posted in Uncategorized on by .

About indosasters

Blog ini mempromosikan konsepsi tentang "Disaster Society" (Masyarakat Bencana); yang bisa didefinisikan sebagai masyarakat yang sadar akan kebencanaan lokal dan global; bahwa sebuah bencana lahir karena kerapuhan geologis & klimatologis berubah jadi hazard (gempa, tsunami, vulkanik, siklon, banjir, longsor), yang akan bekerja pada konteks kerentanan ’sosiologis’ (sosial, ekonomi, fisik, finansial dan lingkungan). Indosasters ditujukan untuk menjadi kumpulan opini, artikel, informasi dan perkembangan mengenai diskursus dan praktek management bencana Indonesia. Dikelolah langsung oleh Jonatan Lassa tetapi dimaksudkan untuk mempromosikan studi bencana dalam bahasa Indonesia. Paham yang dipakai adalah "radical pluralist" dalam pendekatan dan analisis bencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s