Trend Jangka Panjang Peternakan Sapi dan Kerbau di Timor Tengah Selatan 1970an-2016

Suggestion for citation: Jonatan A. Lassa, Ranie Banunaek 2018. Long term trend of TTS big livestock. IRGSC Data Briefing #15 2018.

IRGSC Brief #15 Long Term Trend of Cattle and Buffallo in Timor Tengah Selatan 1970an-2016

Jonatan A. Lassa (CDU) and Ranie Banunaek (IRGSC)

Dalam rangka memahami pembangunan 60 tahun Nusa Tenggara Timur, kami akan secara reguler mengeluarkan laporan-laporan jangka panjang secara ringkas. Edisi kali ini kami menampilkan perkembangan peternakan sapi (cattle) khususnya Kabupaten Timor Tengah Selatan alam kurun waktu 45 tahun terakhir. Kontribusi populasi sapi TTS pernah mencapai masa jayanya di tahun 1997/1998 di mana tiga puluh persen populasi sapi NTT berada di TTS.

sapi tts revisi

Sumber Data BPS NTT – Pra 2005; BPS TTS 2006-2016. Data di olah tim IRGSC (Ranie Banunaek)

Gambar terlampir adalah trend perkembangan sapi (cattle) (Gambar atas) dan kerbau (Gambar bawah) dalam kurun waktu 1970an-2016. Terlihat (Gambar atas) bahwa secara umum populasi sapi era tahun 1970an tidak mengalami perkembangan berarti akibat banyak kasus penyakit termasuk antraks (lihat data BPS tahun 1970an). Kenaikan secara berarti terjadi dalam periode 1980an hingga 1998 khusus untuk populasi populasi sapi. Namun dampak El-Nino yang ditimbulkan tahun 1998 memberikan goncangan dalam perkembangan sapi maupun kerbau NTT jatuh bebas ke titik terendah dalam empat dekade pertama NTT. Populasi sapi kemudian mengalami pemulihan di era 2008-2016 sebagaimana terlihat dalam ke dua gambar di bawah namun tak mampu mencapai era pra 1998.

Studi bencana sering menelusuri kondisi detail dari pemulihan sektor-sektor pembangunan. Sayangnya di Indonesia termasuk di NTT studi pemulihan sektor-sektor pertanian dan peternakan masih mengabaikan pentingnya membangun strategi pemulihan yang sistimatis. Alhasil, dalam dua dekade setelah krisis iklim 1998 yang bertepatan dengan krisis ekonomi Indonesia dan juga krisis politik, kondisi peternakan NTT khususnya hewan besar, mengalami kejatuhan yang tidak disadari dalam jangka panjang.

Secara umum, tidak pernah terjadi recovery ke kecenderungan di tahun-tahun pra 1998. Hal ini berbanding terbalik dengan trend sapi NTT dalam tiga tahun terakhir yang secara keseluruhan pulih kembali ke level pra 1998.

Data perkembangan kerbau menjadi bukti yang lebih kuat tentang dampak jangka panjang El-Nino 1998. Gambar bawah memberikan informasi bahwa sebagaimana di NTT, di TTS telah terjadi penurunan drastis populasi kerbau sejak era 1970an. Namun terjadi kenaikan di era 1980an awal dan stabil di era 1985-1998. Krisis El-Nino menyebabkan kejatuhan yang ke dua dalam perkembangan kerbau Timor di TTS. Ada kecenderungan yang menunjukan bahwa populasi kerbau mungkin akan segera punah dalam 30 tahun yang akan datang.

Pertanyaan yang kami mau sampaikan adalah apakah para pengambil kebijakan maupun rekan-rekan di universitas sadar bahwa dibutuhkan strategi yang lebih sistimatis dalam pengembangan dan pemulihan sistim peternakan paska bencana?

sapi kerbau tts

Sumber Data BPS NTT – Pra 2005; BPS TTS 2006-2016. Data di olah tim IRGSC (Ranie Banunaek)

Family_cows_memory

Source: Bleron Çaka at Wikipedia

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s