60 Pembangunan Tahun NTT – Tantangan dan Hambatan – Update #1 Referensi NTT

2017_08_02_30495_1501654303._large

Pulau Padar, Manggarai Barat [Photo Credit: Jakarta Post]

Catatan JA. Lassa [CDU Australia / IRGSC Kupang]

Percaya atau tidak, terbentuknya NTT dari satuan komunitas Sunda Kecil di 1958 bisa dibaca dalam dua cara pandang. Pertama, NTT sebagai sebuah experimen politik administrasi Indonesia paska kemerdekaan. Makna experimen politik di sini adalah sebuah proses yang tidak sepenuhnya sadar bahwa menyatukan orang-orang kepulauan – yang di dalamnya terdapat 75 kesatuan etnik yang dapat diurai lagi dalam 500 sub-etnik [Liliweri, Alo. 1994] – merupakan sebuah experimen yang kompleks. Cara pandang kedua, terbentuknya NTT merupakan sebuah lotre administrasi politik Indonesia. Di tunjuknya Kupang dan bukan Waingapu ataupun Maumere sebagai ibukota tentu memberikan keuntungan bagi orang-orang Dawan yang dalam waktu lama sejak kolonial Belanda tidak diberikan pendidikan karena gagal dijinakan dalam skema injil / penginjulan sebagaimana terlihat di Rote maupun Flores Timur.

Entah sebuah experimen ataupun lotre adminstasi politik, NTT terbukti membutuhkan waktu yang lama untuk berjuang dalam membangun manusiannya maupun ruang terbangunnya di dalam konteks fisik alamnya yang sedikit kurang beruntung. Hal ini bisa dilihat dari trend dalam publikasi 60 tahun terakhir tentang NTT yang dapat dibagi dalam tiga gelombang besar. Gelombang pertama terjadi dalam tiga puluh tahun pertama yang dicirikan oleh fase ketergantungan dan pengenalan diri. Dalam fase gelombang pertama, buku-buku yang dihasilkan mayoritas adalah proyek Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dalam mengidentifikasikan bahasa, budaya dan karakter ke-NTT-an yang terus bermetamorfosa dari orang-orang pulau yang mungkin terkaget-kaget dengan perbedaan-perbedaan. Micro-cosmosnya Indonesia. Fase ini bisa disederhanakan dalam periode 30 tahun pertama 1958-1987. Dalam fase ini banyak karya-karya monumental terkait ekologi dan budaya NTT yang kebanyakan diproduksi oleh NTT-sianist, salah satunya adalah James J. Fox 1977 (Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia – Harvard University Press) yang intinya membicarakan perubahan ekologis di Kupang, Rote dan Sabu. Selain karya Fox, tentu masih ada beberapa buku lainnya yang memberikan informasi yang membantu peneliti masa kini melihat ke masa-masa NTT ratusan tahun lalu.

Periode kedua adalah periode mencari eksistensi diri ditengah kondisi ketidak-pastian dan konflik. Era ini bisa di simplifikasi dalam periode 1988-awal 2000an. Di era awal 1990an, adalah era Orde Baru mencapai akhir Pelita V, yang mana di tandai dengan buku-buku terbitan Pemda NTT 1993 seperti “35 Tahun Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur (Indonesia)” dan Pemda NTT 1994 “Dinamika pertumbuhan : 36 tahun Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur (Indonesia)” yang intinya bicara statistik pembangunan NTT diberbagai sektor. Era ini era yang ‘relatif’ produktif karena Gubernur Musakabe adalah gubernur yang gemar menulis. Intelektual-intelektual NTT era 1990an mencoba merefleksikan dinamika dan tantangan pembangunan NTT dalam 30-40 tahun pertama. Sebagai misal, karya suntingan Alo Liliweri dan Gregor Neonbasu (1994) berjudul “Perspektif pembangunan : dinamika dan tantangan pembangunan Nusa Tenggara Timur.” Karya ini memberikan kesan sebuah usaha menemukan kembali jati diri ke-NTT-an yang majemuk dan terjebak dalam konflik yang perlu segera diselesaikan dan karenanya akarnya digali sedalam mungkin sejauh mungkin ke masa lalu.

Era ini juga ditandai proyek-proyek bilateral dan multilateral yang relatif besar dalam menopang pembangunan Indonesia maupun NTT yang dalam bahasa khas Orba “menapak era tinggal landas” karena memasuki masa Pembangunan Jangka Panjang II, yakni 1993-2018. Beberapa karya termasuk Colin Barlow, Alex Bellis dan Kate Andrews 1991 ”Nusa Tenggara Timur: The Challenges of Development. Political and social change monograph No.12. Canberra: Australian National University, Research School of Pacific and Asian Studies, Department of Political and Social Change.” Selain karya Barlow dkk 1991, tentu saja ada banyak penelitian yang sayangnya tidak mampu diakses oleh para peneliti yang berbasis di NTT. Dalam fase ini, para penulis tentang pembangunan NTT umumnya merupakan akademisi luar negeri maupun akademisi yang berbasis di Jawa. Penulis-penulis lokal umumnya masih berkutat pada proyek-proyek penelitian pesanan pemerintah yang sejatinya merupakan kelanjutan proyek menemukan dan memahami diri sendiri: proyek identifikasi suku, bahasa, perilaku orang-orang kepulauan Sunda Kecil Tenggara Timur.

Period ketiga adalah fase decade terakhir dalam 60 tahun perjalanan NTT tersebut yakni dekade awal milenium. Fase ini ditandai dengan melonjaknya jumlah intelektual NTT yang tersebar di dalam negeri dan luar negeri. Hasil analisis awal kami, untuk pertama kali jumlah buku terkait pembangunan NTT yang ditulis oleh para penulis lokal melonjak secara signifikan (Hasil analisis akan dipublikasikan dalam buku 60 Tahun NTT yang akan kami terbitkan).

Catatan: Produksi pengetahuan dan catatan-catatan penelitian di negera berkembang sering berjarak dari universitas-universitas di negara berkembang. Puluhan LSM dan donor dalam 60 tahun NTT melakukan mungkin ratusan kalau bukan ribuan penelitian yang dilakukan konsultan-konsultan mereka. Sebagian besar pengetahuan yang diproduksikan tidak bisa diakses. Di lain pihak, universitas-universitas kita belum menjadi sebuah ekosisistim yang subur dalam memproduksikan pengetahuan maupun peneliti-peneliti yang konsisten dalam memikirkan pembangunan jangka panjang. Kumpulan referensi di bawah ini merupakan bagian dari update reguler bagi para penulis NTT 60 Tahun. Di butuhkan kerja sama bagi rekan-rekan NTT yang studi di Australia maupun di mana saja yang memiliki akses pada dokumen-dukumen tak terpublikasikan yang di sebut dalam buku di bawah ini.

10155671_10152353970511617_87970918_n

Referensi Terkait NTT dalam Colin Barlow, Alex Bellis dan Kate Andrews 1991. ”Nusa Tenggara Timur: The Challenges of Development. Political and social change monograph No.12. Canberra: Australian National University, Research School of Pacific and Asian Studies, Department of Political and Social Change. [Thanks to Ranie Banunaek for working/typing these lists of sources]

  • ACIL.Ltd 1985, Appendices to Phase II Feasibility and Design Study, NTT Livestock Development Project, Kupang and Melbourne.
  • ACIL.Ltd 1988, Development of Self-Help Groups and Strengthening institution Capabilities of Govermment Deparments and Rural Community Organization in the Framework of the NTTIAD Projeck, NTT Integrated Development Project, Kupang and Melbourne.
  • Aldrick, J.M. 1983, The Land Resources of West Timor, Vol. III of Phase II Feasibility and Design Study, NTT Livestock Development Project, ACIL, Ltd, Melbourne.
  • Aldrick, J.M. and Anda, M. 1987, The Land Resources of Nusa Tenggara. Technical Report No.3, Nusa Tenggara Agricultural Support Project, ACIL. Ltd. Melbourne.
  • Asian Development Bank 1988, Nusa Tenggara Accelerated Agricultural Development Project, Indonesia. Final Report of Project Formulation Mission (2 volumes), DHV Consulting Engineers and Indec and Associates Ltd. Jakarta
  • Australian International Development Assistance Burea 1988 and 1989, Indonesian Country Papers, 1988 and 1989, South East Asia Branch, Canberra.
  • Bamualim, A. 1986, ‘Present Status of Livestock Production in Nusa Tenggara Timur’, Indonesian Agricultural Research and Development Journal, 8, 1, pp.1-6.
  • Betke, F. 1988, Prospects of a ‘Blue Revolution’ in Indonesian Fisheries: A Bureaucratic Dream or Grim Reality, Unpublished PhD thesis, University of Bielefeld, West Germany
  • Chapman, K.R. 1986, Tree crops for Timor Tengah Selatan and Timor Tengah Utara in Timor Barat, NTT Integrated Area Development Project and Department of Primary Industries, Queensland.
  • Corner, L. 1988, ‘Indonesia and Northern Australia; Potential Economic Linkages with Special Reference to Eastern Indonesia’, In Wade-Marshall and Loveday 1988, pp. 291-310.
  • Cosstick, F. 1987, Report of Findings on Nongovernmental Organisations in East and West Nusatenggara. Nusa Tenggara Agricultural Support Project, ACIL Pty Ltd, Melbourne.
  • Davidson, J. 1987, Strategis for Implementing Social Forestry in Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara, Timur Province, UNDP/IBRD, Jakarta.
  • Field, S. 1988a. Alley Cropping, AnAlternative Farming System for NTT. NTT Integrated Area Development Project, ACIL Ltd, Melobourne.
  • Field, S. 1988b. Maize  Production in TTS, NTT Integrated Area Development Project, ACIL Ltd, Melbourne.
  • Fox, J.J, 1977, Harvest of the palm, Ecological Change in East Indonesia, Harvard University Press, Cambridge.
  • Fox, J.J, 1980, ‘The “Movement of the Spirit” in the Timor area: Christian Traditions and Ethnic Idential’, In Fox, J.J., Garnaut, R.G., McCawley, P.T, and Mackie, J.A.C. 1980,pp. 85-106.
  • Fox, J.J, 1988, ‘The Historical Consequences of Changing Patterns of Livelihood on Timor’ In Wade-Marshall and Loveday 1988, pp. 259-79.
  • Fox, J.J, Gaurnaut, R.G., McCawley, D.T., and Mackie, J.A.C. 1980, Indonesia;Australian Perspectives, Research School of Pacific Studies, Australian National University, Canberra.
  • Fretz, D.J. 1983, Nusa Tenggara Timur Systems Consultancy Projects Vols. I and II, Proyek Penyiapan  Program Investasi Pembangunan di Daerah  NTB dan NTT, Jakarta.
  • Giliham, F.E.M. 1987, Cotton Development Component, Technical Report No.10, Nusa Tenggara Agricultural Support Project and ACIL Ltd, Melbourne.
  • Groves, T.D.D., Sharp, C., & Inggas, K.P. 1976, Fisheries in East Indonesia, East Indonesia Regional Development Study No. 8, Canadian International Development Agency, Ottawa.
  • Gubernur Kepala Daerah Tingkat I NTT 1988, Rancangan Rencana Pembangunan Lima Tahun, 1989/90-1993/1994 [Five-year Development Plan, 1989/90-1993/94] Propinsi Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur. Bappeda Propinsi NTT, Kupang.
  • Gutteridge, R. 1987, Forage Production. Technical Report No. 8, , Nusa Tenggara Agricultural Support Project, ACIL Ltd, Melboune.
  • Hetle, C.B, 1987, Household Impact Survey Program Report, NTT Integrated Area Development Project, ACIL Ltd, Melboune.
  • Indonesia and Australian Development Assistance Bureau 1989, Nusa Tenggara Timur Integrated Area Development Project. Mid-Term Review, Jakarta and Canberra
  • Inskeep, E.L, 1982, Tourism Marketing Strategy and Promotion Program for Nusa Tenggara, Indonesia, Proyek Penyiapan Program Investasi di daerah NTB dan NTT, Jakarta.
  • International Monetary Fund 1988, International Financial Statistics, Washington D.C.
  • Jones, P.H. & Anmana Darsidi 1979, Forestry in East Indonesia. East Indonesia Regional Development Study No.7, Canadian International Development Agency, Ottawa.
  • Judd, P. & Campbell, R.B. 1983a, East Indonesia Rainfed Agriculture Study, Vol. Proyek Penyiapan Program Investasi pembangunan di Daerah NTB dan NTT, Jakarta.
  • Juillerat, M. 1982, Livestock Marketing in Nusa Tenggara, Proyek Penyiapan Program Investasi Pembangunan di Daerah NTB dan NTT, Jakarta.
  • Kelompok Penelitian Agro-ekosistem 1986, Agro-ekosistem Daerah Kering di Nusa Tenggara Timur, Studi Kasus Enam Desa Pengembangan Pertanian, [Agro-ecosystems of Dry Areas in NTT, A. Case Study of 6 Agricultural Development Villages], Departemen Pertanian, Jakarta.
  • McWilliam, A. 1985, Profile Survey of Farmer at Besi Pae, NTT Livestock Development Project, ACIL Ltd, Melbourne.
  • Mahadeva, S. & Suwito Laksono 1976, Food and Plantation Crops in East Timor, East Indonesia Regional Development Study No.5, Canadian International Development Agency, Ottawa.
  • Mathur, S.P. 1983, Hydrogeological Studies of Some Parts of West Sumba Barat and the Coastal Area of Sumba Timur, NTT Rural Water Supply Project, Department of Health, Kupang.
  • Metzner, J.K. 1976, ‘Lamtororo-nisasi: an Experiment in Soil Conservation’Bulletin of Indonesian Economic Studies, 12 1, pp. 103.9.
  • Metzner, J.K. 1977, Man and Environment in Eastern Timor, a Geological Analysis of the Baucana-Viqueque Area as a Possible Basis for Regional Planning, Monograph No. 8, Development Studies Centre, Australian National University, Canberra.
  • Metzner, J.K. 1982, Agricultural and Population Pressure in Sikka, Isle of Flores. A Contribution to the Study of Stability of Agricultural System in the Wet and Dry Tropics, Monograph No. 28, Development Studies Centre, Australian National University, Canberra.
  • Mylins, B. 1987, Community Development Specialist: Second Visit Report, NTT Integrated Area Development Project and ACIL Ltd, Melbourne.
  • Ormeling, F.J. 1957, The Timor Problem, A Geographical Interpretation of an Underdeveloped Island, J.B. Woltens, Groningen, and Martinus Nijhoff, S’Gravenhage.
  • Partadireja, A. & Makeliwe, W.H. 1974, ‘An Economic Survey of East Nusatenggara’, Bulletin of Indonesian Studies X, 1, pp.33-54.
  • Piggin, C.M. 1987, Report and Recommendations on Pasture and Forage Extension and Development in West Timor, NTT Integrated Area Development Project, ACIL Ltd, Melbourne.
  • Piggin, C.M., & Parera, V, 1989,  The Use of Leucaena in Nusa Tenggara Timur, Australian Centre for International Research, Canberra.
  • Piggin, C.M., Helle, P., Janing, M., Akhlis, H.S., Kerridge, P.C, & Zaingo, H, 1987, Report on Result from Pasture and Forage Trials, 1985-87, NTT Integrated Area Development Project, ACIL Ltd, Melbourne.
  • Pohjakas, K., Livingston, E., & Lubis, Y.M, 1974, Water Resources in East Indonesia, East Indonesia Regional development Study No. 3, Canadian International Development Agency, Ottawa.
  • Read, M. & Sturgess, N.H. 1988, Marketing of Food Crops and Livestock in West Timor, NTT Integrated Area Development Project, ACIL Ltd, Melbourne.
  • Research Center for Rural and Regional Development 1988, The Socio-Economic Issues of IKR in The Province of Nusa Tenggara Timur, Gajah Mada.
  • Sherlock, K. 1980, A Bibliography of Timor, Aids to Research Series No.A/4, Research School of Pacific Studies, Australian National University, Canberra.
  • Sherman, A.e., Rika, K., & Lore, J.S, 1976, Livestock Production and Range Management in East Indonesia. East Indoensia Regional Development Study No. 6, Canadian International Development Agency, Ottawa.
  • Siliwoloe Djoeroemana 1982, Social and Cultural Considerations in the Community Forest Projects in NTB-NTT, Indonesia, Proyek Penyiapan Investasi Pembangunan di Daerah NTT dan NTB, Jakarta.
  • Siskel, S.E, 1986, Lembor Integrated Development Area, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Basiline Socio-Economic Survey,  Proyek Penyiapan Program Investasi di daerah Nusa Tenggara , Jakarta.
  • Swisher, G.D. 1987, Strategies for Improving rural Marketing in Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, UNDP-IBRD Project IM/83/1013, Kupang.
  • Usman, M. & Robinson, M.S, 1989, Banking Deregulation and Rural financial Market in Indonesia, Center for Policy and Implementation Studies, Jakarta.
  • van  Eijanatien, C.L.M, 1983, Perennial crops for the drier areas of Nusa Tenggara Barat and Nusa tenggara Timur, Indonesia, Proyek Penyiapan Program Investor Pemnangunan di daerah NTB dan NTT, Jakarta.
  • Vellin, J.L.C. 1983, The Economy of East Nusa Tenggara, Proyek Penyiapan Investasi Pembanguna di Daerah NTB dan NTT, Jakarta.
  • Verna, J.D. 1984, Industrial Development of Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Proyek Penyiapan Investasi Pembangunan di daerah NTB dan NTT, Jakarta.
  • Webb, R.A.F, 1986, Palms and the Cross, Socio-economic Development in Nusatenggara, Monograph No. 15, Centre for S.E. Asian Studies, James Cook university, Townsville.
  • World Bank 1976, Indonesia: Second Seeds project. Report No. 312a-IND, Projects Department, East Asia And Pacific Regional Office, Washington, D.C.
  • World Bank 1986b, Indonesia. Third National Agricultural Extension Project, Report No 5707-IND, East Asia and Pacific Regional Office. Washington, D.C.
  • World Bank 1989, Mid-term Review of the Nusa Tenggara Agricultural Support Project (NTASP-ABRD Loan 2638-IND), Washington, D.C.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s