Working Paper No:
WP No. 12
Title:
Masa Depan Tata Kelolah Air dan Tantangan Penyediaan Air Melalui Bendungan di  Indonesia (Studi Kasus Konflik Pembangunan Embung di NTT)
[Future of Water Governance and Challenges of Water Supply Through Dam Construction: A Case Study on Dam Conflict in NTT, Indonesia]
Abstract
Presiden Jokowi berencana membangun banyak bendungan untuk menjawab kebutuhan air yang diperlukan dalam membangun ketahanan pangan di Indonesia. Namun
kebijakan ini perlu mendapat pengawasan dari masyarakat sipil karena kebijakan ini berpotensi menumbulkan bukan hanya konflik tetapi juga pemiskinan struktural serta
pengungsian atas nama  pembangunan, sebagaimana disaksikan semasa Orde Baru. Kertas kerja ini merupakan hasil dari riset aksi mandiri yang dilakukan oleh penulis
sebagai bagian dari aliansi Solidaritas Rakyat Untuk Masyarakat Guriola-Sabu Raijua. Tulisan ini juga merupakan catatan atas konflik akibat
pembangunanembung/bendungan di kabupaten Sabu Raijua dan Kota Kupang 2013/2014. Isu utama yang dibahas dalam tulisan ini terkait konflik antara pemerintah
sebagai penyelenggara kehidupan publik, dan masyarakat pemilik lahan dalam proses pengadaan air skala besar. Konflik semacam semakin berkembang luas, karena pada
umumnya proyek pengadaan air mengincar daerah dataran rendah yang subur sebagai lokasi penangkap air, baik menggunakan bendungan maupun embung. Tulisan ini
membahas bagaimana masyarakat cenderung berada di posisi kalah ketika berhadapan dengan para teknokrat.
Keywords:
Tata kelola air, Sabu, kebijakan keairan, governance, konflik sumber daya air, water governance
Author(s):
John Petrus Talan
Date
February 2015
Masa Depan Tata Kelolah Air dan Tantangan Penyediaan Air Melalui Bendungan di  Indonesia (Studi Kasus Konflik
Pembangunan Embung di NTT) [Future of Water Governance and Challenges of Water Supply Through Dam
Construction: A Case Study on Dam Conflict in NTT, Indonesia]
IRGSC Research  Paper
Working Paper 13
ISSN 2339-0638
Beberapa warga pemilik lahan sedang
menunggui Excavator yang akan
dipergunakan untuk menggusur lahan
mereka pada 25 Juni 2014. Pembangun
Embung Guriola di Desa Rainyale telah
menimbulkan korban. Sejumlah masyarakat
Guriola telah memeberikan lahan mereka
untuk pembangunan, namun ada juga yang
menolak pembangunan embung ini akibat
telah terjadi kekerasan melibatkan Satpol PP
yang puncaknya terjadi pada tanggal 25 Juni
sehingga menyebabkan 13 warga luka-luka.
[Foto: John P. Talan]