Implementasi ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN - MEA) tinggal menghitung hari, yang
segera direalisasikan pada Januari 2015 sebagai implikasi dari kesepakatan integrasi ekonomi ASEAN. Inti
dari implementasi MEA adalah menuju pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan elemen aliran
bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik, dan aliran modal yang lebih bebas, menuju penciptaan
kawasan regional yang berdaya saing tinggi, menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang
berdaya saing tinggi, dan menuju kawasan yang  terintegrasi penuh pada perekonomi global.

Integrasi ekonomi ini merupakan buah dari keyakinan bahwa struktur pasar yang clear tanpa hambatan
merupakan jalan tol menuju efisiensi tinggi. Integrasi ekonomi tersebut tentunya memiliki manfaat antara lain
menstimulasi eksistensi dan ekspansi industry manufaktur dengan basis yang lebih rasional, meningkatkan
perdagangan yang dapat diartikan pula sebagai perbaikan dasar tukar pada kelompok tersebut, dan terakhir
adalah menaikan persaingan yang semakin kondusif sehingga menimbulkan efisiensi. Meskipun ada dampak
yang positif dari adanya integrasi ekonomi, namun tidak dapat disangkal bahwa bagi negara yang belum siap
maka dapat dipastikan negara tersebut hanya sebagai penonton dan pasar empuk bagi produk-produk luar
negeri.

Realitas Kita
Ety Puji Lestari dalam penelitiannya pada tahun 2012 menyatakan bahwa penyatuan ASEAN ke dalam ASEAN
Economic Community diyakini akan membawa perubahan besar terutama dari sisi ekonomi, karena dapat
menciptakan pasar yang luas dengan populasi sekitar 500 juta jiwa, total perdagangan lebih dari 720 milyar
dollar per tahun serta produk domestic bruto (PDB) lebih dari 737 milyar dollar, dan mampu meningkatkan
perdagangan intra ASEAN dengan rata-rata pertumbuhan 16,7 persen per tahun. Meskipun demikian,
kontribusi nilai perdagangan intra ASEAN ternyata tidak merata karena didominasi oleh Singapura dengan
prosentasi nilai perdagangan lebih dari 40 persen dari keseluruhan total perdagangan intra ASEAN.

Mengamati kondisi neraca perdagangan Indonesia sebagai salah satu cerminan keunggulan dan kesiapan kita
dalam menghadapi AEC 2015 ternyata cukup jauh dari harapan. Data statistik menunjukkan bahwa neraca
nilai perdagangan tahun 2012 dan 2013 menunjukkan nilai yang negatif dan semakin menurun, dimana -1,63
pada tahun 2012 turun menjadi -5,54 pada tahun 2013, yang lebih banyak dipengaruhi oleh minyak dan gas
bumi, sedangkan nilai perdagangan untuk komuditas non migas cenderung positif.

Setali tiga uang dengan neraca perdagangan nasional, neraca perdagangan NTT pun memiliki pola yang
yang sama, dimana nilai perdagangan yang terus menerus minus, yang mengindikasi nilai impor melebih nilai
ekspor. Dan bahkan, jika dilihat dari rata-rata ekspor NTT ke negara-negara ASEAN hanya terbatas kepada
Singapura, Thailand, dan Malaysia yang nilainya hanya sebesar 73,216 US$, sedangkan rata-rata impor NTT
dari negara-negara ASEAN berasal dari Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam yang mencapai
1,426,758 US$. Ini berarti bahwa secara rata-rata terjadi selisih negatif cukup signifikan pada naraca
perdagangan NTT. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, maka dapat menjadi masalah yang serius dalam
menghadapi AEC 2015.

Optimisme Menghadapi AEC 2015
Meskipun ada sejumlah kondisi yang dapat menjadi kendala bagi kita untuk dapat mengambil manfaat dari
adanya integrasi ekonomi seperti tantangan neraca perdagangan, dampak negatif arus modal yang lebih
bebas, yang mengakibatkan terjadinya konsentrasi aliran modal ke negara tertentu yang dianggap
memberikan potensi keuntungan lebih menarik, daya saing sumberdaya manusia, dan sebagainya. Namun
demikian, data menunjukkan bahwa masih ada potensi yang masih dapat dikelola dengan baik untuk
meningkatkan daya saing nasional, terutama terkait dengan pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM).

Data pada Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2012 memperlihatkan bahwa pertumbuhan jumlah usaha
mikro dan kecil mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2012
jumlah usaha mikro adalah 55.856.176 unit usaha dengan rata-rata pertumbuhan 2,28 persen dan usaha
mikro sebanyak 629.418 pada tahun 2012 dengan rata-rata pertumbuhan 4,73 persen. Hal ini menunjukkan
bahwa minat terhadap pengembangan usaha mikro dan kecil terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara
itu terlihat pula bahwa pertumbuhan penyerapan tenaga kerja pada sektor usaha mikro dan kecil mengalami
peningkatan sejak tahun 2006 hingga 2012 dengan rata-rata 3,21 persen untuk usaha mikro dan 5,85 persen
untuk usaha kecil yang mengindikasi adanya peran yang penting dari usaha mikro dan kecil terhadap
penyerapan tenaga kerja.
Pada sisi lain, usaha mikro dan kecil dikenal sebagai usaha yang sangat fleksibel terhadap perubahan dan
sebagai incubator bagi terciptanya wirausahaan baru, sehingga posisi usaha mikro dan kecil menjadi posisi
yang strategis dan memberikan harapan yang kuat dalam meningkatkan daya saing bangsa. Salah satu
sumber dari majalah SWA Edisi 03 Februari 2010 mengatakan bahwa untuk menjadi negara maju maka
membutuhkan 2 persen dari warganya untuk menjadi entrepreneur. Sumber tersebut menyebutkan bahwa
entrepreneur di Indonesia masih ada pada kisaran 0,18 persen, sehingga masih diperlukan bahwa
entrepreneur-entrepreneur baru yang melakukan kerja-kerja kreatif.

Studi yang dilakukan penulis mengenai entrepreneurship pada industri kreatif di Indonesia yang difokuskan
pada kota-kota yang dianggap sebagai kota kreatif, menunjukkan bahwa sebagian besar dari pengusaha
industri kerajinan menganggap bahwa mereka memiliki sikap innovativeness yang dicirikan dengan
kecenderungan untuk melakukan ide-ide baru yang merupakan karakteristik seorang entrepreneur, tapi
sayangnya dampak dari jiwa entrepreneurship tersebut belum mampu meningkatkan kinerja perusahaannya
yang ditandai dengan tingkat pangsa pasar dan cakupan pasar yang tinggi. Hal ini berarti bahwa tingkat daya
saing pengusaha kecil kita masih relatif rendah dibandingkan daya saing dari pengusaha luar. Sementara itu
dalam konteks NTT, Policy Brief yang dipublikasi Institute of Resource Governance and Social Change
(IRGSC) pertumbuhan industri kecil di NTT cenderung menurun dan kinerja yang bersifat jangka pendek
sehingga rentan terhadap perubahan permintaan negatif, yang dapat mencerminkan daya saing yang
rendah.  

Sebagai langkah stragis untuk memperkuat optimisme kita, maka langkah ke depan yang perlu diambil
pemerintah baik lokal maupun nasional secara serius mempertimbangkan untuk penguatan usaha skala mikro
dan kecil dengan memperkuat sumberdaya manusianya dengan meningkatkkan ketrampilan yang memadai.
Sembari secara bijak mempertimbangkan dan membangun sektor-sektor yang dianggap sangat potensial
untuk meningkatkan daya saing daerah maupun nasional.

*. Maklon F. Killa (Dr) adalah dosen di STIE Waingapu, Sumba Timur, Indonesia
Merajut Optimisme Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Maklon Killa
Commentaries
IRGSC Commentary 001/2015