Diberitakan bahwa ribuan PNS di Kabupaten Sikka terkena penyakit diabetes melitus (DM) dan hipertensi (tekanan
darah tinggi). PT Askes membuat Program Pengelolaan Diabetes Melitus dan Program Pengelolaan Hipertensi, hingga
kini sebanyak 574 orang yang terkena penyakit kencing manis dan 464 hipertensi yang sudah tergabung dalam
komunitas terapi kencing manis dan hipertensi (Lihat Victory News 11/11 - 2013 Hal 13).

Angka di atas hanyalah puncak gunung es yang sepintas baru terlihat oleh pihak yang paling dirugikan yakni
perusahaan asuransi.

Yang pasti, resiko paling akbar di dunia atau terutama di negara berkembang pada dua dekade yang akan datang
adalah epidemik hipertensi. Mengapa? Karena hanya smart governments dengan iklim regulasi yang sehat yang
mampu secara dini mendeteksi dan mengelola resiko-resiko ini. Hipertensi yang jarang menampakkan gejala pada fase
awal sehingga pemerintah yang berfokus pada ‘musuh’ yang personal sering gagal memahami ancaman-ancaman
yang laten namun masif dan berbahaya. Artikel ini berfokus pada pengelolaan resiko sodium/natrium atas hipertensi.
World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi penyebab kematian
12,8% dari total penyebab kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2008, jumlah orang dewasa (diatas 25 tahun) yang
menderita hipertensi sebanyak 40%. 1 dari 3 orang dewasa menderita hipertensi. Hipertensi menjadi isu kesehatan
dunia karena kontribusinya yang tinggi pada penyakit seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Di Indonesia,
data ini masih bersifat anekdotal namun secara umum terkesan naiknya jumlah kasus hipertensi, sedangkan di daerah
tersedia sedikit tenaga kuratif spesialis.

Jelas bahwa selain faktor penuaan, ada faktor kuat yang menyebabkan peningkatan tekanan darah, yaitu faktor
perilaku seperti makanan yang tidak sehat, konsumsi alkohol berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, berat badan
berlebih, merokok, dan stres yang tidak terkontrol.
Konsumsi makanan yang tidak sehat seperti konsumsi makanan dengan kadar garam atau kadar natrium (sodium)
melebihi jumlah yang dianjurkan setiap hari, yakni 2000mg. Natrium berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah
dalam tubuh.

Makanan instan adalah contoh dari sumber makanan dengan kadar natrium yang sangat tinggi. Jika masyarakat cermat
mengamati tabel Nutrition Fact pada kemasan makanan instan yang dikonsumsi, maka akan ditemukan natrium atau
sodium disana. Contohnya mie instan. Makanan yang ‘enak’, instan, mudah ditemukan, dan tentu saja murah ini perlu
dicermati. 1 bungkus mie instan mengandung 600-1500mg natrium, sedangkan batas maksimal masukan natrium
sehari adalah 2000mg.

Jika ada seseorang mengkonsumsi 2 bungkus mie instan untuk 1 kali waktu makan dalam sehari (total natrium 2
bungkus mie = 2000-3000mg), maka Natrium yang dikonsumsi sudah mencapai angka maksimal bahkan lebih. Ini belum
ditambah dengan 2 waktu makan lainnya yang tentu saja menggunakan garam dalam proses memasak. Belum lagi
memasukkan faktor MSG yang mana di pedalaman lazim kami temukan anak-anak sering mengkonsumsi MSG secara
langsung sebagai cemilan.

Dalam skenario terburuk, rata-rata perilaku makan yang beresiko di atas dapat mengkonsumsi hingga 4000-5000 mg
natrium sehari. Dan ini akan semakin berbahaya jika para orang tua membiarkan anaknya, sejak kecil mengkonsumsi
makanan instan berlebihan. Artinya setiap orang bisa terpapar selama belasan hingga puluhan tahun pada sodium
yang berlebihan, sehingga (lepas dari argumentasi soal ketahanan genetis) dengan sangat gampang mengalami
peningkatan tekanan darah ketika menginjak 30an.

Beberapa negara, seperti Finlandia, USA, dan Portugal telah mulai memperhatikan hipertensi, menyadari hipertensi
sebagai ancaman pembangunan, sehingga memprioritaskannya dalam kebijakan yang disiplin. Pengurangan konsumsi
garam/natrium merupakan salah satu program yang paling sederhana dan cost-effective, meskipun perlu didukung
kebijakan lainnya untuk menurunkan tekanan darah seseorang. Finlandia memberikan contoh nyata keberhasilannya
menurunkan tekanan darah melalui program pengurangan konsumsi garam yang melibatkan kampanye berbagai
media, kerja sama industri makanan, dan peraturan labeling pada makanan. Hal ini telah dilakukan Finlandia sejak
akhir 1970an, dan memberikan dampak penurunan tekanan darah secara signifikan, dan penurunan kematian akibat
sakit jantung dan stroke. Tidak hanya di Finlandia, negara-negara maju lainnya tak ketinggalan beberapa negara
berkembang telah membuat program pengurangan konsumsi garam pada skala nasional.
Contoh kebijakan lainnya adalah penyediaan sarana untuk diagnosis dan pengobatan hipertensi secara luas.
Kebijakan-kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah peduli akan kesehatan masyarakat terkait hipertensi,
dan juga peduli akan masa depan negaranya.

Intervensi yang bersifat kuratif seperti pengobatan dan penanganan komplikasi yang disebabkan karena hipertensi
seperti operasi bypass jantung atau dialisis  akan sangat mahal. Komplikasi tersebut biasanya membutuhkan
pengobatan jangka panjang, sehingga dapat menggiring keluarga pada kemiskinan. Bukan hanya pada level individu
dan keluarga, pemerintah juga menggelontorkan dana besar untuk sarana kesehatan bagi penanganan komplikasi
hipertensi.

Tujuan yang sesungguhnya dari kebijakan-kebijakan tersebut adalah untuk mencegah dan mengontrol hipertensi.
World Health Organization (WHO) menyatakan setiap orang dewasa harus mengetahui tekanan darahnya. Seseorang
dengan tekanan darah normal harus mempertahankan dan mencegah (prevensi) peningkatan tekanan darah,
sedangkan orang dengan hipertensi harus ditangani dan dikontrol secara rutin sehingga tidak mengarah pada
komplikasi. Semakin cepat terdeteksi, penanganan hipertensi akan semakin mudah dan murah.
Jika untuk mencapai suatu kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah dengan industri makanan dalam
mengurangi kadar natrium memakan waktu yang lama (sedangkan hipertensi tidak dapat menunggu), maka yang paling
sederhana adalah kesadaran individual. Masyarakat dapat mengurangi konsumsi natrium secara terukur. Diperlukan
kampanye pembatasan makanan instan, makanan kaleng, makanan yang diproses. Tidak hanya pengurangan
konsumsi natrium, beberapa hal yang perlu diperhatikan individu adalah kontrol berat badan pada batas normal,
konsumsi alkohol tidak berlebihan, tidak merokok, dan kurangi konsumsi makanan berlemak.

Di tingkat ilmu pengetahuan, pemerintah perlu menginvestasi pada preventive cardiology secara lebih sistematis.
Diperlukan pemberian informasi terkait hipertensi kepada masyarakat melalui berbagai media demi membangun
kesadaran individu dalam mencegah dan mengontrol hipertensi. Pemeriksaan tekanan darah rutin juga diharapkan
menjadi hak setiap orang sampai ke pelosok desa. Dengan inisiatif pemerintah, diharapkan tiap warga di awal usia
20an rutin mengontrol tekanan darahnya, dan terpapar informasi seperti menurunkan penggunaan garam dan pola
hidup yang mendukung. Negara akan diuntungkan dari segi kualitas hidup manusia secara umum sehingga
meningkatkan produktivitas kerja, penurunan angka kematian akibat komplikasi hipertensi, serta berkurangnya beban
negara untuk pengobatan penyakit jangka panjang akibat hipertensi.
Linking Hypertension Risk and Public Policy
Risiko Hipertensi dan Kebijakan Publik
[Victory News 04 December 2013]

Nike Frans

Researcher at IRGSC
Opinion