Dalam paradigma soal "kemajuan" dalam organisasi sosial dan budaya berpolitik, Indonesia dan NTT sering dianggap
tertinggal ratusan tahun dari negara-negara Utara. Lepas dari debat apakah kita harus menjadi seperti Barat, atau
menjadi diri kita sendiri, marilah kita membayangkan proses pemilihan gubernur NTT di tahun 2114. Mengapa
membayangkan 100 tahun yang akan datang? Singkat saja, evolusi sistim dan budaya terkadang memakan waktu lebih
dari milenium. Contoh, evolusi dogma-dogma agama bertahan dalam skala milenium. Karena itu, tugas membayangkan
100 tahun NTT menjadi sedikti lebih mudah.

Seperti apa kualifikasi ideal seorang gubernur NTT di tahun 2114? Mari kita mengandaikan bahwa masih ada
kemungkinan Indonesia dan provinsi bernama NTT di 2114. Kalaupun exsistensi NTT di kawasan Indonesia Tenggara
Timur sebagai sebuah administrasi kekuasaan berkemungkinan hilang 100 tahun lagi, tetapi marilah kita percaya
bahwa Flobamoranesis akan tetap menjadi ciri daerah ini di masa depan - disebut Flobamoranesis karena begitu
ragamnya kawasan ini dengan sebaran geofrafis yang tidak terkonsentrasi seperti Jakarta. Karenanya seharusnya
pemimpin NTT memiliki kualifikasi yang lebih kompleks dari sekedar kualifikasi
populism komunikatif yang cerdas dari
Jokowi-Ahok di Jakarta di 2013.

Flobamoranesis adalah sebuah ciri masyarakat suku-suku orang kepulauan: Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu,
Lembata dan suku-suku lainnya. Varian Flores juga tidak sedikit karena perbedaan karakter Manggarai, Sikka, Ende,
Flotim dan lainnya yang di dalamnya terdiri beragam suku-suku. Pemimpin Flobamoranesis 2114 pasti bersuku, tetapi
tidak boleh sukuisme. Kami mengandaikan bahwa konservatisme sulit dibasmi hingga 2114. Karena itu, promordialisme
belum bisa ditiadakan. Karena itu, semangat politik rasional versi Flobamoranesis hanya bisa dicapai dengan
menciptakan aturan main (
rules of the game) yang baru tentang bagaimana para kandidat yang unggul secara
kecerdasan jamak yang layak menjadi seorang gubernur NTT.

Pemimpin Homo Flobamoranesis yang ideal jelas memiliki sosial capital bernama primordialitas tetapi tidak
primordialisme. Primordialitas adalah sebuah kebutuhan tetapi primordialisme hanyalah barang mainan para calon
medioker yang tidak layak menjadi pempimpin. Lepaskan diri anda dari definisi text book. Bagi saya, primordialitas
adalah soal bagaimana orang-orang mampu berkomunikasi secara lebih intim dengan satu bahasa ibu atau bahasa
kelompok tertentu. Karena itu, dalam pandangan saya, primordialitas bukanlah sebuah kebersalahan tetapi sebuah
orientasi komunikasi yang membutuhkan keintiman.

Untuk menjawab realitas primordialitas NTT, maka yang berhak menjadi gubernur NTT di 2114 haruslah mereka yang
mampu menguasai 3-4 bahasa ibu Flobamoranesis. Kita membayangkan seorang lelaki atau perempuan yang memiliki
banyak kecerdasan: dari kecerdasan berbahasa, kecerdasan memimpin, kecerdasan berpolitik seacra etis, kecerdasan
matematis, dan kecerdasan membuat kebijakan publik.

Jadi saya membayangkan munculnya banyak calon gubernur di 2114 yang mungkin saja datang dari Alor ataupun
Ende beragama Islam atau Hindu tetapi mampu berbahasa Dawan, berbahasa Tetun, berbahasa Sumba dan
berbahasa Manggarai disamping berbicara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia ejaan yang disempurnakan tahun
2100. Atau mungkin saja kita harus memilih seorang calon gubernur yang berasal dari TTS tetapi mampu
berkomunikasi dalam bahasa ibunya orang Manggarai, orang Sumba dan orang Lamaholot. Dalam
kampanye-kampanye dan marketing politik di 2114, nilai tambah bagi seorang calon gubernur bukan berdasarkan
warisan suku (darah) mayoritas seperti mainan politisi NTT 2013, tetapi bagaimana si calon mampu berkomunikasi
secara nyaman dalam 3-4 bahasa daerah.

Mengapa kecerdasan linguistik ini menjadi penting dalam politik Flobamoranesis di 2114? Karena dengan menguasai
bahasa, kita lebih mampu memahami dunia nyata serta kosmologi dari masyarakat yang dipimpin. Bahasa adalah
jendela dalam memahami worldview orang lain dengan demikian menjadi alat bukan hanya memahami tetapi juga
mampu berkomunikasi dengan subyek-subyek komunitas Flobamoranesis. Jadi bukan soal yang rumit dengan kriteria
penguasaan 3-4 bahasa daerah sebagai syarat calon gubernur 2114.

Dalam kekinian, kita saksikan adalah praktek politik regional di Eropa di mana seorang pimpinan Komisi Eropa mampu
berbahasa jamak. Karena itu, visi bersatunya Eropa dalam sebuah masyarakat ekonomi dibarengi dengan leadership
yang menopang visi tersebut. Bagi para keluarga yang ambisius dan bermimpi agar anaknya jadi gubernur, jangan lupa
ajarkan anak mereka agar mereka mahir bahasa-bahasa Ibu Flobamoranesis.

Anda mengatakan, kecerdasan lingusitik bukan satu-satunya jalan? Saya sepakat. Bahwa pempimpin Flobamoranesis
di 2114 perlu berbagai kecerdasan yang ragam yang tidak selalu dimiliki si pemimpin tetapi seorang yang mampu
merangkai berbagai kecerdasan yang tersedia di masyarakat dan di lingkungan birokrasi. Karena itu, tidak seperti hari
ini, di 100 tahun yang akan datang, kecerdasan kepimimpinan seorang pemimpin haruslah kecerdasan peradaban
abad 22.

Di era di mana mobil-mobil terbang akan menjadi fenomena ekspresi hobi orang-orang kaya dan anak-anak pejabat
NTT abad 22, kita berharap Flobamoranesis bebas dari cengkraman para pejabat korup yang menghalalkan segala
cara demi membeli mobil-mobil terbang bagi keluarga. Di era di mana terjadi domestikasi robot-robot penolong rumah
tangga (dalam arti harfiah) dan para jompo NTT abad 22, kita berharap munculnya masyarakat yang juga lebih cerdas
dalam memilih pemimpin dibandingkan hari ini.

Dunia boleh berubah tetapi kecerdasan yang dibutuhkan dari pemimpin mungkin relatif sama. Pemimpin NTT 2114
perlu memiliki kecerdasan komunikasi politik pembangunan seperti yang diperankan Jokowi-Ahok di Jakarta di era kini.
Namum konteks NTT yang lebih hierarkis dan lebih asimetrik (secara budaya, sosial, ekonomi, sejarah dan politik
dibandingkan Jakarta) perlu dibarengi dengan berbagai jenis kecerdasan lainnya. Kecerdasan berpolitik secara etis
tetap menjadi fondasi berpolitik. Kecerdasan matematis dan etis (yang hilang dari berbagai level kepemimpinan saat
ini)  yang dibutuhkan dalam kalkulasi rasional kebijakan publik kiranya dimiliki para pempimpin.

Kecerdasan budaya dan sejarah tidak kalah penting dalam memahami bahwa untuk menyatukan keragaman
Flobamoranesis dalam satu kecirian masyarakat modern, representasi masyarakat minoritas menjadi variable penting
dalam arena politik Flobamoranesis. Bagaimana anda membayangkan suku-suku terasing seperti Boti (TTS) maupun
tradisi rumah adat Mbaru Niang (Manggarai) di tahun 2114? Mari kita beranggapan bahwa dalam 100 tahun ke depan,
masih sulit mendapatkan bupati di Timor Tengah Selatan yang mau berkomitment dan konsisten membangun
prasarana dan fasilitas yang memadai di Komunitas Boti, maka gubernur 2114 perlu membuat fasilitas khusus bis
terbang yang melintasi SoE-Niki-Niki- Boti.

Kebijakan publik perlu menyentuh dimensi demografis. Hari ini, para pemimpin kita di NTT (dan Indonesia) mengontrol
populasi dengan KB (baca: kondom) sedangkan para pimpinan di Barat mengontrol populasi dengan kemakmuran dan
distribusi kesejahteraan melalui APBD/ABPN. Karena itu, terkenal pepatah modern bahwa kejayaan dan kemakmuran
ekonomi adalah kontrasepsi yang mumpuni. Hal yang sederhana bahwa ketika ekonomi membaik, secara empirik di
negara-negara maju, pertumbuhan kelahiran berkurang. Lalu marilah kita berasumsi secara sinis, bahwa mungkin
elit-elit kita baru sadar soal ini seratus tahun lagi karena untuk memahami detail dari Tujuan Pembangunan Milenium
(MDGs) saja, hari ini pun belum mampu?

Bisakah imajinasi 2114 ini dipercepat  - katakanlah 20 tahun lagi di 2034? Jawabannya bisa YA. tetapi dengan syarat
yang masih sulit dipenuhi saat ini yakni munculnya aturan-aturan lokal tentang syarat menjadi gubernur di NTT. Kita
juga membutuhkan politisi-politisi cerdas yang berkontribusi secara berarti pada kualitas wacana pembangunan dan
politik di Senayan, yang konon, belum bisa kita saksikan secara memuaskan hari ini. Kaderisasi politik membutuhkan
sistim yang lebih inovatif yakni bagaimana menghasilkan politisi-politisi berkarakter dan mampu berimajinasi melampaui
ratusan tahun ke belakang dan ke depan. Yang pasti, entah dalam konteks 2013/2014 maupun 2114, untuk menjadi
elit (penguasa), seseorang harus mampu menunjukan bahwa dia layak karena kualifikasi kecerdasan jamak dan bukan
sekedar karena kecelakaan sejarah, bukan pula karena kecelakaan lahir sebagai anggota klan mayoritas.

*. penulis adalah Research Fellow di IRGSC
Pemimpin Homo Flobamoranesis 2114

Jonatan A. Lassa

(Opini Victory News 12 Feb 2013)
Opini lainnya