"Yang mau tidak mampu, yang mampu tidak mau; yang mau dan mampu tidak terpilih. Akhirnya terpilihlah “sang
monyet” yang berhati baik yang (konon) ingin menjaga ikan" (Anonim).

Hari-hari ini, dikala kita menenegok ke belakang, 54 Tahun sudah kita berkelana di belantara Nusa Tenggara Timur
(NTT), pemimpin berganti pemimpin, gagasan berganti gagasan, jargon berganti jargon, lalu dengan tertunduk kita
bercermin, lalu bertanya “kalau kemiskinan masih merajalela, kelaparan mengancam setiap 'musim kering' setiap
tahun, maka pastilah ada yang salah.

Kesalahan pertama yang terhembus adalah “rakyat malas”. Si miskin yang sudah menjadi korban, kini menjadi
terdakwa. Kesalahan berikutnya jatuh pada alam. Negeri ini tandus, musim kemarau terlalu panjang, hujan terlalu
sedikit. (secara tidak langsung sebenarnya kita “kecewa terhadap Tuhan”, mengapa engkau memberi kami negeri
yang kering kerontang ini, dan itulah kita yang tidak tahu bersyukur).

Pertanyaannya, kemana perginya sang pemimpin? Kalau keluhan dan airmata tidak menghasilkan renungan, kritik
tidak menghasilkan perubahan, dan perbaikan, masukan berhenti ditengah jalan atau dikurung di lemari, harapan
tinggal menjadi kenangan. Kita terpaksa mengatakan, cukuplah sudah, cukup! Karena kita sedang berhadapan
dengan manusia yang tuli, egois yang sedang memikirkan diri sendiri, atau kelompoknya, sedang cemas atas
keselamatannya, jabatannya atau sedang bergumul diantara panggung idealisme dan pragmatisme, apalagi
menjelang pesta Pilkada.

TEROBOSAN DIERA GLOBALISASI
Hari-hari ini kita sementara mencari dan terus mencari pemimpin yang membawa cita-cita kita jauh melangkah (man
of idea), bukan cuma membawa kepentingan kelompoknya (partainya, sukunya, agamanya, temannya, saudaranya
(man of hyper pragmatis). Dalam kondisi tertinggal, kita butuh “TEROBOSAN” yang radikal tetapi terukur, terutama
mendorong pertumbuhan ekonomi dan sekaligus mensejahterakan rakyat, agar harapan tidak jadi kenangan.

Tuhan memberi kita lautan yang luas sekeliling pulau-pulau NTT, jutaan hektar lahan yang masih mengganggur dan
Tuhan menempatkan NTT di selatan Indonesia, dekat dengan Australia dan Pasifik. Tuhan memberi alam dan
budaya yang menarik pelancong, Tuhan memberi jutaan “orang” bagi NTT yang cerdas, Tuhan memberi kekayaan
alam dan semuanya bagi NTT, yang akhirnya terpulang bagi kita “manusia” yang ditempatkan di Nusa ini,
tergantung sang Pemimpin, yang “berani gugur” demi rakyat yang dipercayakan kepadanya, untuk mendobrak ide
dan mewujudkannya, tanpa kalkulasi untung rugi, seperti tengkulak dan broker.

Tanyakan pada kandidat Calon Gubernur NTT 2013, apa TEROBOSAN yang dia mau buat, bukan sekadar
merubah jargon/ikon seperti DeMAM diganti BATUK (Bantuan untuk orang Miskin) misalnya. Tetapi terobosan
sesuai kondisi spesifik NTT agar mampu menerjang ketertinggalan dan bersaing di era globalisasi, dengan sasaran
utama, kesejahteraan rakyat NTT.

BEBERAPA IDE TEROBOSAN
Daripada dituding hanya bisa berteorika atau cuma bisa mengkritik, perkenankan dengan rendah hati saya
mencoba melangsir beberapa ide terobosan terutama di era globalisasi yang kejam ini, khusus berkaitan dengan
“percepatan pertumbuhan ekonomi di NTT yang sekaligus peningkatan kesejahteraan rakyat serta penanggulangan
kemiskinan”.

>Perdagangan Lintas Batas (Cross Border Trade) Yang Berkaitan Dengan Pariwisata.

Keunggulan spasial Kota Kupang dan NTT pada umumnya adalah kedekatannya dengan Kota Darwin-Australia dan
Dilli di Timor Leste.
Andaikan antara Kupang-Darwin dikembangkan hubungan laut dengan menggunakan kapal ferry ro-ro,
sebagaimana yang selama ini terjadi antara Kota Medan dan Penang (Malaysia), Kota Batam dan Singapore, di
mana selain perdagangan barang, juga pariwisata, di mana orang dapat membawa mobil untuk melancong, maka
inilah “segmen pariwisata” yang potensial dan menarik karena selain merupakan “segmen khusus”. Lama tinggal (di
NTT) akan berdampak positif bagi pendapatan daerah, terutama masyarakat, ketimbang kapal layar (Indonesia Sail)
yang cuma singgah sebentar. Secara bertahap, mimpi tentang kupang sebagai pintu gerbang selatan Indonesia ke
Pasifik dan Australia, pintu gerbang Utara Australia ke Asia, semakin mendekati kenyataan.
Ide ini telah digulirkan pada masa jabatan Bapak Gubernur NTT Herman Musakabe, dan disambut sangat baik oleh
Menteri Perhubungan Republik Indonesia (Bapak Haryanto Dhanutirto) dan Menteri Hubungan Asia, Perdagangan
dan Industri Australia Utara (Mr. D. Hon Derg), sayangnya Expo Kupang yang dihadiri oleh 19 Provinsi di Indonesia,
termasuk 2 stand dari Australia, serta Gubernur N.T. Australia datang dengan pesawat khusus tersebut tidak
dilanjuti, dan ide cross-border trade tidak berlanjut karena mendekati maka akhir jabatan Bapak Herman Musakabe
(1998) serta tidak dilanjuti oleh penggantinya.

>Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR)
Kita dianugerahi lahan terlantar sekian juta hektar dan lahan pertanian yang belum dikelola secara efektif, yang
kalau berharap pada program DeMAM, entah berapa puluh tahun baru dapat dinikmati oleh masyarakat di seluruh
desa di NTT. Tanah tersebut adalah “modal awal investasi rakyat” yang bersanding dengan investor/konglomerasi,
yang punya modal dan teknologi, serta jaringan pasar. Berbeda dengan pola perkebunan inti-Plasma, atau pola
Bapak Angkat. Rakyat/masyarakat sekitar lokasi usaha disertakan dalam satu “Badan Usaha Bersama” yang kita
namakan BUMR-NTT, yang berkolaborasi dengan sang konglomerat, membentuk satu perusahaan
perkebunan/tanaman, dengan porsi investasi/saham sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.
Misalnya, biaya investasi untuk pembelian/pembebasan tanah dan tenaga kerja kasar menjadi bagian dari BUMR,
sisanya, menjadi tanggungjawab pengusaha. Sesuai dengan jenis komoditi tanaman dan lahan, maka dapat
diperhitungkan porsi masing-masing apakah 80:20 atau 70:30 dan seterusnya. Posisi BUMR dapat diperkuat,
apabila ada penyertaan modal pemerintah yang membantu BUMR.
Alokasi dana DeMAM bisa saja dimanfaatkan untuk memperkuat posisi BUMR. Dan karena ini dalam ranah bisnis,
bantuan modal tersebut dapat dikembalikan/digulirkan. Dengan demikian, percepatan pembangunan terjadi, rakyat
beralih menjadi “pengusaha” dan akhirnya terjadi peningkatan pendapatan dan penanggulangan kemiskinan,
sekaligus alih teknologi dan kita siap bersaing dipasar global. Siapa takut?


AKHIRNYA
Akhirnya, semoga pada Pemilihan Gubernur NTT Tahun 2013 nanti, kita tidak terjerumus pada eforia demokrasi
yang salah kaprah seperti yang sedang terjadi di bumi nusantara, di mana sang kepala daerah dipilih karena
“orangnya baik, tidak sombong” atau cantik dan ganteng (artis) tetapi terutama untuk NTT yang tertinggal ini,
pilihlah kandidat yang sanggup dan mampu menerobos tantangan arus globalisasi, mempercepat pertumbuhan
ekonomi, berbasis dan berjunjung pada benefit bagi rakyat banyak di NTT.

Semoga tulisan ini menggugah banyak ide-ide terobosan yang mungkin lebih baik lagi, dan itu merupakan
“pemberian” kita semua demi membahagiakan sesama karena Ekonomi Ilahi bersifat otomatis dan sangat
sederhana: “Kita menerima apa yang kita berikan”.

Catatan:
Artikel ini telah dimuat di Harian Umum Victory News tanggal 22 Agustus 2012
NTT Mencari Pempimpin

Oleh Wilson Therik*
Opini lainnya