Pengantar EDISI 2  [16-31 AGUSTUS 2013]
     
IRGSC NTT Research focus adalah publikasi regular yang berisikan ringkasan penelitian terkini tentang NTT yang dikombinasikan
dengan berita dari tiga media harian utama di NTT yakni Pos Kupang, Timor Express dan Victory News. Fokus dari NTT Research
Focus adalah pada isu kesehatan, pangan, nutrisi dan risiko. Terkait rangkuman berita di bawah ini, diharapkan agar pembaca
melakukan validasi dari kliping berita yang dimaksud [Lihat juga keterangan penerbitan di halaman 8, .
pdf].

NTT RESEARCH HIGHLIGHTS
•        Miller et. al. 2013. Seasonal variation in the nutritional status of children  aged 6 to 60 months in a resettlement village in
West  Timor. Asia Pacific Journal Clinical Nutrition 22 (3):449-456.
•        Sylvia Tidey 2013. Corruption and Adherence to Rules in the Construction Sector: Reading the “Bidding Books”. American
Anthropologist Vol 115(2):  188–202. DOI: 10.1111/aman.12003


HEALTH
1.        Aneka Penyakit Serang Pengungsi Palue
2.        Mabar Belum Miliki Rumah Sakit
3.        Puskesmas Labuan Bajo Memprihatinkan
4.        Pemprov Belum Serius Berantas Rabies
5.        Keluarga Pasien Bawa Air dari Rumah
6.        Suami Jadi Penyebar HIV ke IRT
7.        Copot Puskesmas Raimanuk
8.        Sampah RSUD Kupang Tak Terurus
9.        Tenaga Kesehatan Wajib Memiliki STR
10.        Tarif RSUD Batal Naik
11.        Mobil Pusling Parkir Dua Tahun di Polres

FOOD AND NUTRITION
12.        Bayi Mulai Terserang Gizi Buruk
13.        Sorgum Harapan Baru Warga NTT


RISK
14.        Hobalt Meletus Dua Menit
15.        Aktivitas Tiga Gunung Api Meningkat
16.        Warga Palue Lari Ke Gereja

Selected NTT Publications

  • Miller et. al. 2013. Seasonal variation in the nutritional status of children  aged 6 to 60 months in a resettlement village in West  
    Timor. Asia Pacific Journal Clinical Nutrition 22 (3):449-456.Abstract: Childhood malnutrition remains a public health issue in
    Indonesia with a national prevalence of wasting of 13%  and stunting of 36%. In rural areas nutritional status depends on local
    agriculture and may fluctuate in relation to  harvest time. The aim of this study was to characterise seasonal variations in
    nutritional status in two resettlement  villages in the Oesao district, Nusa Tenggara Timur. A cross sectional study was
    conducted in a convenience  sample of children after the wet season (March). Children aged 6 to 60 months were assessed for
    nutritional status using anthropometric and biochemical measures. A subset of these children was re-assessed for anthropometry
    after the dry season (November). Weight-for-height z scores improved significantly from mean±SD of -1.7±  0.9 in March to -1.3
    ±0.9 in November (p<0.001). There was no significant change in height between seasons.  Prevalence of wasting, (weight-for-
    height z score <-2), was 42% in March and 19% in November (p<0.001).  However, stunting rates increased significantly from
    42% in March to 45% in November (p<0.001). Thirty six  per cent of children were anaemic (Hb level <11 mg/100 mL), 68% were
    vitamin A deficient (plasma vitamin A  level <0.8 µmol/L) and 50% were zinc deficient (plasma zinc <9.94 µmol/L). All children
    except one were positive for intestinal parasites. These data indicate seasonal changes in anthropometry with inconsistent effects
    depending on the anthropometric index measured. Wasting and stunting were higher than the national average,  alongside high
    rates of anaemia, zinc and vitamin A deficiencies.
  • Sylvia Tidey 2013. Corruption and Adherence to Rules in the Construction Sector: Reading the “Bidding Books”. American
    Anthropologist Vol 115(2):  188–202. DOI: 10.1111/aman.12003 Abstract:: In this article, Sylvia Tidey explores how
    anticorruption strategies affected a tender held in 2008 at the Department of Public Works in Kupang (NTT), eastern
    Indonesia, in ways both unexpected and unintended. I show how anticorruption programs get refracted at the local level and
    become unanchored from their original intention, leading to an obsession with adherence to the form of the anticorruption
    discourse that runs counter to its spirit and actually undermines the anticorruption initiative by providing new opportunities for
    corruption. Here I contribute to recent anthropological attention to both corruption and documents by looking at how traces of
    corrupt procedures can be found in the very documents designed to counter them. I argue that documents form a significant
    ethnographic point of departure from which to study the unintended effects of anticorruption programs, especially when they
    perform the ambiguous effect of both strengthening the anticorruption discourse and subverting it.


Selected News Clippings

1.        ANEKA PENYAKIT SERANG PENGUNGSI PALUE
Victory News, Kamis, 22 Agustus 2013 (halaman 1)

Dampak letusan Gunung Api Rokatenda hingga Rabu (21/08), 954 orang terserang penyakit. ISPA 451 orang, mialgia (195),
gastritis (107), diare (25), dermatitis (21), hipertensi (20), vulnus (20), artritis (7), bronchitis (6), bronchopneumonia (1), serta
beberapa keluhan lain, ungkap Kadinkes Kabupaten Sikka, dr Pasande. Selain itu, ada 627 orang pengungsi yang tergolong dalam
kelompok rentan dengan penyakit. Terdiri dari 12 bayi, 119 balita, 8 ibu hamil, 331 anak sekolah, 43 ibu menyusui, 111 lansia, 3
penyandang disabilitas, dan 3 orang dengan gangguan mental.    

2.        MABAR BELUM MILIKI RUMAH SAKIT
Victory News, Senin, 19 Agustus 2013 (halaman 13)

Meskipun sudah 11 tahun menjadi daerah otonom, Manggarai Barat (Mabar) hingga kini belum memiliki rumah sakit daerah. Warga
Labuan Bajo dan Manggarai barat yang sakit parah harus dilarikan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai atau Denpasar, Bali.
Koordinator Himpunan Mahasiswa Mabar (HIPM), Yosef Nggara mengatakan bahwa “Pembangunan rumah sakit sejak 2006 sudah
menghabiskan 1,5 M tetapi tidak berjalan.

3.        PUSKESMAS LABUAN BAJO MEMPRIHATINKAN
Victory News, Kamis, 22 Agustus 2013 (halaman 13)

Kondisi Puskesmas Rawat Inap Labuan Bajo yang selama ini dipaksakan menjadi RSUD Daerah Manggarai Barat sangat
memprihatinkan.         Hal ini terlihat dari kondisi ruang bersalin yang sumpek, fasilitas MCK yang tidak layak, dan ruang IGD yang
minim fasilitas. Belum lagi dua ambulans yang rusak sejak dua bulan lalu belum diperbaiki, sehingga dibantu oleh ambulans Balai
Karantina dari sebuah parpol di Mabar. Tempat tidur yang tersedia di Puskesmas Labuan Bajo hanya 15 unit sehingga jika terjadi
lonjakan pasien, kelebihan pasien dirawat di lorong-lorong puskesmas.  

4.        PEMPROV BELUM SERIUS BERANTAS RABIES
Victory News, Senin, 26 Agustus 2013 (halaman 15)

Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kabupaten/kota di NTT dinilai tidak serius dalam mengatasi permasalahan rabies di NTT
yang terjadi sejak tahun 1990-an. Penanganan rabies belum dijadikan prioritas Pemprov dan pemerintah kabupaten/kota di NTT,
ditegaskan Asisten Bidang Penanganan Laporan Ombudsman NTT, Josua Karbeka. Padahal, jika dibandingkan dengan
penanganan rabies di Provinsi Bali, mereka hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk memberantas rabies di daerah tersebut.
Fenomena yang selama ini terjadi tidak dianggap penting oleh pemerintah. Padahal rabies mematikan dan telah memakan ratusan
nyawa manusia.         Pemerhati rabies NTT dr Asep Purnama, dalam diskusi di IRGSC mengatakan “seluruh stakeholder harus
bahu membahu memberantas virus mematikan tersebut; dan peran tokoh agama sangat penting untuk mengadvokasi masyarakat”.
Selain itu, hambatan yang dihadapi adalah vaksin yang diadakan melalui tahapan tender sementara pasien harus mendapatkannya
tepat waktu. Peneliti IRGSC, Elcid Li menilai Gubernur NTT gagal menjalankan koordinasi dengan para bupatinya; para pemimpin
lebih mementingkan kepentingan parpol. Jika pemimpin hadir untuk kepentingan masyarakat, maka masalah rabies akan mudah
dituntaskan.

5.        KELUARGA PASIEN BAWA AIR DARI RUMAH
Pos Kupang, Selasa, 27 Agustus 2013 (halaman12)

Sejumlah pasien dan keluarga pasien RSUD Naibonat, Kabupaten Kupang, mengeluh karena ketiadaan air bersih di kamar mandi.
Aktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK) terganggu. Bau busuk menyebar dari kamar mandi pasien. Ny. Seubelan dan keluarga
pasien lainnya mengeluh sudah 3-4 hari harus mengambil air dari rumah mereka yang cukup jauh (ditempuh dengan kendaraan
motor/ojek).  Kondisi kamar mandi pasien dan bahkan kamar mandi dokter kondisinya sangat buruk. Bak kamar mandi kotor dan
kekuningan, bau pesing dan air kencing di mana-mana, bahkan kloset masih ada tinja yang mengering. Sedangkan di samping
tembok WC milik dokter dan perawat ada pipa bocor yang dibiarkan saja sehingga air menggenangi halaman samping.   

6.        SUAMI JADI PENYEBAR HIV KE IRT
Pos Kupang, Rabu, 28 Agustus 2013 (halaman 13)

Ibu Rumah Tangga (IRT) merupakan klasifikasi tertinggi yang terindentifikasi mengidap HIV/AIDS di Kabupaten Belu dengan total
saat ini mencapai 195 orang dari jumlah pengidap seluruhnya di Belu mencapai 585 orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Penularan ini
bukan akibat dari IRT terjun langsung dalam seks bebas tetapi diduga ditularkan suaminya berdasarkan wawancara dari hati ke hati
dengan para IRT.         Untuk mencegah penyebaran HIV-AIDS semakin luas di Belu maka Pemda Belu telah mengeluarkan Perda
No.13 Tahun 2012 tentang Pencegahan Penanggulangan HIV-AIDS di Belu.

7.        COPOT PUSKESMAS RAIMANUK
Pos Kupang, Senin, 26 Agustus 2013 (halaman 12)

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Belu, Vinsensiu Kehi Lau, dalam rapat panitia badan anggaran (Banggar)
mendesak Bupati Belu mencopot Kepala Puskesmas Raimanuk dari jabatannya. Pasalnya, yang bersangkutan mengabaikan
pelayanan kepada warga di kampung-kampung bahkan ada warga yang sakit nyawanya tidak tertolong, padahal pemerintah pusat
telah meluncurkan anggaran melalui jamkesmas, fasilitas penunjang berupa kendaraan dinas sudah diberikan, namun tidak
digunakan sebagaimana mestinya.

8.        SAMPAH RSUD KUPANG TAK TERURUS
Victory News, Senin, 26 Agustus 2013 (halaman 15)

Sampah medik dan non medik di RSUD WZ Johannes Kupang sudah mulai membusuk dan menyebarkan aroma busuk. Akibatnya,
para pasien yang menghuni dan menjalani perawatan di ruang bersalin Flamboyan merasa terganggu. Sedangkan di depan mesin
penghancur, sampah bahkan mencapai dua meter tingginya sementara tiga orang petugas sementara sibuk memperbaiki
incenerator. Sampah-sampah tersebut belum dapat dibakar karena incenerator masih dalam proses perbaikan kata salah seorang
petugas.

9.        TENAGA KESEHATAN WAJIB MEMILIKI STR
Timor Express, Senin, 26 Agustus 2013 (halaman 11)

Kedepan mahasiswa kesehatan harus memiliki STR (Surat Tanda Registrasi). Bila tidak memiliki STR, maka tenaga yang
bersangkutan dilarang untuk praktek atau dilarang menjalankan tugasnya. Hal ini sudah diamanatkan dalam Permenkes
1796/Menkes/PER/VIII2011 tentang registrasi tenaga kesehatan. Ketua Majelis Kesehatan Provinsi NTT DR Drg Mindo Sinaga,
melalui stafnya Maxy Taopan menjelaskan bahwa kedepan mahasiswa kesehatan sebelum mengikuti ujian nasional terlebih dahulu,
maka mahasiswa itu harus mengikuti ujian kompetensi yang akan dilaksanakan Oktober 2013 nanti.  

10.        TARIF RSUD BATAL NAIK
Victory News, Selasa, 27 Agustus 2013 (halaman 1)

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT dr Stef Bria Seran menegaskan, tarif RSUD WZ Johannes Kupang tidak akan dinaikkan
sebelum pelayanan di RS milik Pemprov NTT tersebut diperbaiki dan ditingkatkan.

11.        MOBIL PUSLING PARKIR DUA TAHUN DI POLRES
Timor Ekspress, Rabu. 28 Agustus 2013 (halaman 15)

Mobil Puskesmas Keliling (Pusling), milik Dinas Kesehatan Manggarai dan ambulans milik RSUD Ruteng, sudah dua tahun ditahan
pihak polres Manggarai karena tidak ada dokumennya. Untuk mobil ambulans di rumah sakit bantuan UNFPA, STNK sudah
ditemukan tetapi platnya hitam, atas nama pribadi, yakni kepala RS belasan tahun lalu. Sedangkan pusling milik Dinkes pajaknya
sudah belasan tahun tidak dibayarkan, pajaknya memang sudah mati lama.         Kadis Kesehatan Manggarai tetap berupaya
mendapatkan surat-surat kendaraan tersebut.   


12.        BAYI MULAI TERSERANG GIZI BURUK
Pos Kupang, Jumat, 30 Agustus 2013 (halaman 22)

Delapan anak di kamp pengungsian (pengungsi Palue) mengalami gizi buruk, yang diduga karena asupan makanan dan diare.         
Menurut dokter yang bertugas di kamp pengungsian, perawatan bayi dan anak yang menderita gizi buruk dilakukan di puskesmas
terdekat.  

13.        SORGUM HARAPAN BARU WARGA NTT
Timor Express, Senin 26 Agustus 2013 (halaman 4)

Tanaman sorgum bukan baru datang di NTT. Bahkan beberapa daerah seperti Rote, Sabu, Sumba dan Timor serta Flores bagian
timur, tanaman ini menjadi sumber pangan keluarga. Tapi dalam perjalanan waktu, para petani beralih karena beberapa sebab.
Konsumsi warga pun ikut berubah. Ketika Ben Mboi menjadi gubernur periode 1978-1988 sorgum sempat menjadi primadona
dalam apa yang disebut dengan program Operasi Nusa Makmur. Namum hal itu tak bertahan lama. NTT dijadikan sebagai daerah
pengembangan sorgum. Penanaman sorgum dalam skala besar setidaknya bisa menjawab tiga persoalan sekaligus, yaitu
ketersediaan pangan, kekurangan energi (cairan perahan dari batang sorgum bisa diolah menjadi bioetanol), serta rendahnya
produksi pakan ternak (ampas dan sisa batang). Bagaimana kebijakan pemerintah provinsi dan kabupaten menyambut upaya
pengembangan sorgum ini?


14.        HOBALT MELETUS DUA MENIT
Pos Kupang, Rabu, 21 Agustus 2013 (halaman 1)

Pascaerupsi Gunung Rokatenda di Palue-Sikka, Gunung Hobalt, salah satu dari dua gunung bawah laut di Kabupaten Lembata,
meletus dua menit pada Selasa (20/08).

15.        AKTIVITAS TIGA GUNUNG API MENINGKAT
Victory News, 26 Agustus 2013 (halaman 1)
Aktivitas tiga gunung api di Pulau Flores terus meningkat dan meresahkan warga. Ketiga gunung tersebut adalah Gunung Ile
Warung dan Gunung Hobal di Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata serta Gunung Api Ebulolo di Kecamatan Boawae, Kabupaten
Nagekeo. Kepala BPBD Kabupaten Lembata Petrus Bote menjelaskan, pihaknya tetap berkoordinasi dengan camat setempat dan
pos pemantau gunung berapi.

16.        WARGA PALUE LARI KE GEREJA
Pos Kupang, 26 Agustus 2013 (halaman 2)
Ratusan warga Palue yang tinggal tak jauh dari Gunung Rokatenda mengungsi ke sejumlah bagunan umum, seperti gedung
sekolah dan gereja terdekat karena atap rumah mereka bocor saat terjadi hujan deras pada sabtu malam. Atap rumah itu rusak
akibat terkena abu vulkanik ketika Gunung Rokatenda meletus 10 Agustus lalu. Saat ini warga tidak bisa tidur dan basah sambil
berjaga-jaga, kata Romo Yan. Harapan warga kiranya pemerintah bisa membantu seng untuk atap rumah karena musim hujan
hampir tiba.  

Penerbitan NTT Research Focus adalah bagian dari pengembangan NTT Studies oleh IRGSC, sebuah think tank yang berbasis di
Kupang, NTT.

Koordinator pelaksana:        Inriyani Takesan
Penanggung Jawab:             Dominggus Elcid Li, PhD
Editor:                                   Dr. Jonatan A. Lassa
Asisten pelaksana:                Nike Frans, Randy Banunaek
Reviewer:                              Rudi Rohi, Victoria Fanggidae, Maklon Killa
NTT Research Focus 002
Health, Food, Nutrition and Risk