Doa Warga Kota Merpati

Oleh: Ermi Ndoen

Anggota Forum Academia NTT

Ada sebuah kota Antah Berantah. Kota ini menurut data statistik resminya adalah rumah bagi hampir setengah juta orang. Umumnya para penghuni kota Ini bertuhan; karena mereka memiliki salah satu agama yang dibolehkan di kota Antah Berantah, untuk dicantumkan dalam kartu anggota Kota Antah Berantah; sebagai salah suatu identitas.

Para pemeluk agama di Kota Antah Berantah bebas untuk berdoa pada Tuhannya. Mereka berdoa secara rutin. Ada yang berdoa setiap jam, ada yang lima kali sehari; setiap hari; atau setiap minggu. Alhasil, kota ini menjadi kota yang sangat religius. Banyak rumah ibadah yang berdiri megah; walaupun ada anggotanya banyak yang masih tinggal di rumah gubuk. Bagi rakyat kota ini; beribadah dan berdoa adalah jiwa dan rohnya.

Illustration: eprmagazine.com

Penghuni kota ini sangat mengasihi sesamanya sehingga kota ini dijuluki Kota Merpati; sejenis burung yang dianggap sangat setia pada janji. Burung merpati yang umumnya berwana putih;  juga menjadi sebuah simbol kesucian, dan keromantisan. Merpati merupakan burung yang setia terhadap pasangannya. Mereka biasanya hanya memiliki satu kekasih untuk seumur hidup. “Merpati tidak pernah ingkar janji”, kata penduduk kota ini.

Kebanggaan pada merpati ini diwujudkan dalam wujud taman kota yang dibangun di salah satu ruas jalan utama, menjadikan Kota Antah Berantah terkenal dengan “Kota Merpati – Tuhan Memberkati” … kira-kira ini makna dari Patung Merpati Putih di Kota ini. Pemerintah Kota ingin mewujudkan kebanggaan warganya sebagai Kota Merpati dalam bentuk taman yang indah.

Doa: Harapan dan Kenyataan

Sebagai kota yang religius; warga Merpati rajin berdoa. Dalam setiap kesempatan berbicara pada Sang Khalik para warga Kota  meminta Tuhan untuk melindungi pemerintahnya; dan memberi hikmat dan kebijaksanaan dalam memerintah.

Doa dari hampir 500 ribu orang setiap saat selalu menyelipkan haparan agar pemerintahnya bisa memberi pelayanan terbaik dan kesejahteraan bagi warga kota. Maklum saja; Kota ini juga dikenal sebagai Kota Karang karena gersang dan banyak karang. Air merupakan ‘masalah utama’ Kota Merpati. Warga selalu berdoa agar Pemerintah Kota Merpati dapat menyediakan air yang cukup bagi warganya.

Tetapi yang terjadi sebaliknya. Kota Karang selalu kekurangan air. Pipa-pipa bertebaran di berbagai sudut kota; tanda bahwa ada upaya pemerintah menyediakan air bagi warganya; tapi kebanyakan pipa kosong dan berisi angin. Kalau ada kebocoran pipa di pinggir jalan dan air terbuang percuma; butuh waktu lama untuk diatasi. Mungkin ada maksud baik dari pipa yang dibiarkan bocor; agar taman di sekitarnya dapat sedikit siraman air untuk menghijaukan kota ini.

Ada juga pipa yang berisi air dan mengalir ke rumah-rumah warga; tapi hanya mengalir seminggu atau dua minggu sekali, atau tidak pernah sama sekali. Warga sudah cukup bersyukur bahwa mereka punya uang untuk membeli air dari pengusaha air swasta atau pasrah menunggu hujan dari langit. Pemerintah entah di mana.

Kota Merpati yang berkarang dan gersang ini, dulunya banyak pohon. Pemerintah Kota ini menyarankan penduduk untuk menanam pohon menghijaukan kota. Tapi anehnya; pohon-pohon besar di tepi jalan– bahkan pohon beringin–yang menghijaukan Kota, sudah banyak yang ditebang pemerintah dan diganti dengan pohon-pohon plastik, pohon warna-warni berlistrik, atau dibiarkan kosong melompong kala terik.

Ah, doa warga kota agar pemerintahnya bijaksana mungkin didengar Tuhan. Daripada warga kota kekurangan air untuk menyiram pohon, sebaiknya pohon-pohon ini ditebang agar ada penghematan air. Warga tidak perlu resah kota kekurangan pohon dan kekurangan air; karena sudah banyak pohon plastik yang ditanam pemerintah di berbagai ruas jalan di Kota Merpati yang cukup dialiri listrik dan tidak butuh air untuk menyiram.

Bunga Sepe dan Sarisando Listrik

Kota ini dulunya gelap. Warga berdoa untuk mendapat terang. Jadilah terang; hampir seperti penciptaan dunia pada awalnya. Banyak lampu jalan mulai dipasang di berbagai sudut kota. Tidak ketinggalan banyak sekali lampu-lampu berbentuk bunga “Sepe” ikut tergantung di berbagai sudut kota.Rakyat senang. Mereka lagi-lagi bersyukur, Tuhan mengabulkan doanya. Setelah banyak pohon ditebang, termasuk pohon Sepe, kebanggaan warga di waktu Natal; pemerintah akhirnya sadar untuk kembali menghadirkan suasana Sepe yang bukan hanya hadir di bulan Desember; tapi hadir setiap waktu di setiap kerlip pandang warga kota.

Lampu-lampu Bunga Sepe artifisial banyak bergantungan di tiang-tiang listrik di dalam kota. Warga Kota tidak perlu kuatir kekurangan Bunga Sepe akbat banyak pohon yang ditebang; tapi terus berbahagia karena Bunga Sepe bisa mekar di tiang listrik pada waktu malam. Hal yang menjadikan warga bingung, kenapa lampu-lampu Sepe ini digantung di bawah lampu penerangan jalan? Sinar mana yang harus dilihat warga; sinar lampu Sepe atau lampu penerangan? Ah sudahlah, ini demi keindahan kota, kata warga.

Kota Merpati adalah Kota yang berbudaya. Kota ini terkenal memiliki alat musik yang – menurut cerita orang – hanya satu-satunya di dunia. Alat musik  ini namanya Sarisando. Sayangnya alat musik yang fenomenal ini sudah kekurangan pemainnya karena banyak generasi tua warga Kota Merpati yang mahir bermain sarisando, sudah renta atau sudah wafat.

Sekali lagi Tuhan hadir dan mengabulkan doa warga Kota Merpati. Kebetulan doa warga muncul dalam bentuk lampu warna warni berbentuk Sarisando berterbaran di seluruh pelosok Kota Merpati. Upaya pelestarian alat musik Sarisando dijawab Tuhan melalui program “Lampu Sarisando”. Warga kembali berterima kasih.

Walaupun ada yang berbisik, “apa sebaiknya dana pengadaan Lampu Sarisando ini dipakai untuk membuat sanggar Sarisando”? Bukankah lampu sarisando ada umur pakainya, sama seperti lampu Sepe? Kalau dana ini dipakai untuk pembinaan generasi muda dalam bermain Sarisando, Kota Merpati yang gersang ini tidak akan kekurangan pemain muda Sarisando. Festival Sepe tidak hadir dalam bentuk lampu sepe dan lampu sarisando, tapi hadir dalam bentuk dentingan merdu petikan jari lentik para generasi muda Kota Merpati yang sedang memainkan alat Sarisando asli.

Kota Merpati yang berbudaya ini juga terkenal dengan tenunnya. Sekali lagi pelestarian tenun dikembangkan pemerintah lewat lampu warna warni tenun di berbagia ruas jalan. Warga yang mengharapkan dukungan pembinaan generasi muda untuk dapat bertenun, mungkin harus kembali banyak berdoa, agar pemerintah bisa melestarikan tenun bukan dengan lampu tapi dana kepada sanggar-sanggar tenun. Lampu tenun tidak juga abadi, tapi ketrampilan tenun generasi muda akan abadi.

Saat ini warga Kota Merpati telah memasuki tahun baru. Semua warga Merpati berbondong-bondong ke rumah-rumah ibadah untuk bersyukur atas berkat yang diterima tahun lalu dan ada doa dan harapan terbaik untuk Pemerintah Kota Merpati tahun ini. Warga kota mulai sadar; banyak doanya sudah terjawab walau mungkin masih tetap bingung dengan arah jawaban Tuhan atas doa mereka.

Tahun ini mereka tetap lebih keras berdoa agar urusan kartu anggota warga Kota Merpati jadi lancar. Semoga Pemerintah Kota mulai memunculkan kebijakan pro rakyat dan bukan membuang uang untuk kosmetik kota. Mereka berdoa agar ‘sumber air makin dekat’. Mereka menitipkan harapan pada Tuhan agar janji Pemerintah Kota bisa seperti janji burung merpati. Kota ini akan berdamai dengan tetangganya dalam perebutan aset perusahaan air minum, makin banyak pohon asli, dan bunga sepe asli tumbuh di tanah gersang kota ini. Juga agar semakin banyak dana pembinaan Sanggar Sarisando dan Sanggar Tenun untuk anak-anak Kota Merpati. Karena itu warga Kota Merpati, mari kita berdoa. Amin.

*Artikel opini ini dipublikasi di harian umum Pos Kupang, versi cetak tanggal 2 Januari 2020, dan versi online pada tanggal 6 Januari 2020. Versi ini telah mengalami beberapa revisi minor dan mendapat persetujuan dari penulis untuk pemuatan di website ini. Baca artikel orisinil di sini. 

Share This Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *