Negara, Pendidikan dan Kewarganegaraan – Salah satu topik utama dalam ACSJ 2019

[KUPANG, 6/12/2019 – Maria Goreti Ana Kaka] Diskusi panel Annual Conference on Social Justice 2019 secara paralel disesuaikan dengan jumlah makalah yang lolos seleksi. Setiap hari, peserta dibagi ke dalam dua kelompok untuk mengikuti sesi panel di waktu yang bersamaan berdasarkan minat setiap peserta saat mendaftar.

Di hari pertama, 4 Desember 2019, panel sesi 1 yang berlangsung di ruangan Cendana 1 membahas topik “Negara, Pendidikan dan Kewarganegaraan” dan dimoderatori oleh Dekan FISIP Universitas Katholik Widya Mandira Kupang, Dr. Marianus Kleden. Hadir sebagai pembicara dalam panel ini Khristina Antariningsih, S.S. (Sekolah Tumbuh, Jogjakarta), James Panggabean (Ombudsman Republik Indonesia), Rudi Rohi, S.H., MA. (Ph.D. Cand.) (FISIP-UNDANA), Rosnida Sari, Ph.D. (UIN Ar-Raniry, Banda Aceh), dan Andi Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si. (Universitas Hasanuddin, Makasar).

Para presenter dalam panel sesi I tentang “Negara, Pendidikan dan Kewarganegaraan” ACSJ 2019

Khristina dalam panel ini membagikan pengalamannya dalam menerapkan pendidikan inklusif bagi anak-anak di Sekolah Tumbuh Jogja. Ia menjelaskan bahwa pendidikan inter-religius sendiri merupaan cerminan dari pendidikan inklusif. “Pendidikan interreligius ini juga bermanfaat untuk mencegah berbagai konflik pendapat dalam kehidupan siswa di sekolah. Dengan pendidikan ini anak-anak lebih akrab dan terbuka terhadap satu sama lain. Pendidikan interreligius menawarkan gagasan lebih luas dan inklusif sehingga pendidikan ini dapat menjadi salah satu pendidikan yang bisa diterapkan di Indonesia”, tutur guru Sekolah Tumbuh DIY ini.

Pada forum yang sama, Rosnida Sari menyajikan hasil penelitiannya tentang bagaimana komunitas Kristen di Tapak Tuan memenuhi kebutuhan spiritual mereka dan sejauh mana peran pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Menurutnya, kendala yang dihadapi warga Kristen di Aceh adalah takut dengan label “Negeri Syari’ah”. Strategi untuk beribadah ada yang menggunakan strategi beribadah di pasar, mengatasnamakan acara arisan untuk berkumpul. Ada juga masyarakat yang mencoba untuk mencari perlindungan pada masyarakat muslim yang punya ‘kekuasaan’. “Di Aceh hanya ada 9 gereja dan semuanya adalah gereja Katolik. Suku di Aceh ada etnis Aceh, Anuek, Jamee, Kluet, Batak, Nias dan Jawa. Mayoritas agamanya adalah agama Islam. Dan yang beragama Kristen berjumlah 179, Katolik berjumlah 116 orang, Hindu ada 116, Buddha ada 7 orang. Pada tahun 2013, seorang ASN yang ditempatkan di Tapak Tuan memprakarsai peribadatan bersama yang akhirn ya diikuti oleh sekitar 50 warga. Namun terhenti karena konflik SARA di Kabupaten Singkil tahun 2015”, ujar akademisi Universitas Jember tersebut.

Andi Rahmat Hidayat melakukan penelitian di 10 kota di Indonesia yaitu Aceh, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Padang, Makasar, Yogyakarta, Solo, Salatiga, dan Mataram menemukan bahwa secara umum millenials memiliki jiwa nasionalisme yang cukup baik, millenials memiliki nasionalisme simbolik dengan konsern pada identitas-identitas kebangsaan (bendera, lagu) serta mengidentifikasi dirinya lebih baik dari bangsa lain.

Sebagai pembicara terakhir, Rudi Rohi menjelaskan bahwa yang akan menjadi penerus di masa depan adalah kaum millenial sehingga proses regenerasi pengetahuan berkaitan dengan sejarah sangat penting untuk diteliti. Berdasarkan penelitian Rudi, mengenai pengetahuan dan jarak sejarah, mahasiswa yang memahami tentang kolonialisme berjumlah 53% yang mengetahui bahwa Belanda adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kolonialisme di Indonesia. “Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita bisa menerima negara-negara yang pernah menjajah Indonesia? Apakah bisa diterima sebagai negara sahabat dan jawabannya adalah “iya bisa diterima”. Artinya bahwa generasi milenial sudah berpikir terbuka dan mengakui keberadaan negara-negara maju yang bisa menjadi acuan untuk Indonesia sendiri.”, ungkap peneliti IRGSC tersebut mengakhiri presentasinya.

Selain sesi tanya jawab, banyak peserta juga yang mengapresiasi hasil penelitian keempat pembicara tersebut dan menjadi inspirasi bagi kaum millenials dalam melakukan penelitian lain yang lebih luas dan mendalam. Usai diskusi, seluruh peserta berfoto bersama pemateri dan moderator.

Share This Post