ACSJ 2019 membahas Bonus Demografi dan Peluang Ekonomi Kreatif di Indonesia

[KUPANG, 6/12/2019 – Maria Goreti Ana Kaka] “Yang membedakan ekonomi kreatif dan usaha biasa adalah ekonomi kreatif memiliki proses branding dan karya yang minimalis tetapi berkualitas. Ada juga kolaborasi nilai digitalisasi dan ada Hak Kekayaan Intelektualnya.”, ungkap Dr. Mohammad Amin, M.Sn., MA., dalam diskusi utama ACSJ 2019 di Ruang Cenda, Neo Hotel Kupang, Kamis (05/12).Perwakilan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) ini menjelaskan bahwa ekonomi kreatif berpeluang sekali di Indonesia karena mengacu pada bonus demografi, Indonesia akan membutuhkan kreativitas yang lebih dan semuanya diatur dalam konsep ekonomi kreatif.

“Jumlah usaha kreatif di Kupang hanya berjumlah 9,6 % dengan kuliner, fashion dan kriya yang menjadi tiga kelompok utama. Permasalahan utama di Kupang adalah kebanyakan tidak mampu mendapat permodalan di perbankan dan rumitnya urusan administrasi. Usaha – usaha kita juga tidak memiliki track record yang baik dalam membuat laporan keuangan. Solusinya adalah mendapatkan modal non perbankan misalnya dari keluarga, teman, mencari investor, mencari donator, dan usaha mandiri lainnya. Ada juga cara misalnya menjual ide/ kreatifitasnya kepada investor sehingga bisa dijamin modalnya”, ungkap Amin.

Para presenter dalam panel sesi I di hari kedua ACSJ 2019, dengan topik “Memahami Pasar dan Promosi Kesejahteraan dari Bawah”. Dalam sesi ini dipercakapkan bonus demografi dan peluang ekonomi kreatif di Indonesia.

Selain Amin, hadir pula sebagai pembicara co-founder Du’Anyam Enterprise, Hanna Keraf. Hanna membagikan pengalamannya dalam memberdayakan perempuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui aktivitas kewirausahaan yang bisa menjadi salah satu wadah promosi budaya. Du’anyam (du’a menganyam) merupakan usaha kreatif bagi para pembuat kerajinan tenun di NTT yang sudah ada di 50 desa dan 2 propinsi, yaitu NTT dan Papua.

“Du’anyam mencoba menghubungkan peluang kearifan lokal dengan kerajinan menganyam. Awalnya dimulai dengan memberikan pelatihan menganyam dan pelatihan sistemnya sehingga para ibu-ibu di NTT bisa memahami dengan mudah. Tahun 2016 produk Du’anyam sudah memasuki hotel-hotel di Bali dan setelahnya sudah melintasi semua hotel di Indonesia. Dengan memanfaatkan media sosial juga proses pemasaran bisa terbantu dengan baik.”, cerita perempuan asal Flores ini.

Hanna menambahkan bahwa setiap sebulan mereka memproduksi 3.400 anyaman. Pada momentum Asian Games produk Du’Anyam juga banyak memberi kontribusi. Untuk program sosial, Du’Anyam juga bekerja sama dengan Samsung untuk pemberian lampu surya di masyarakat. Ada juga mitra lainnya, seperti, Kalbe dan Hoshizora. Du’Anyam juga bekerja sama dengan mantra investasi, seperti Northstar, Angin, DBS Foundation, WTF, UNLTD, Insteller, dll.

“Dukungan utama juga dari pemerintah, khususnya Bekraf sebagai pihak yang membantu berkembangnya Du’anyam dan mendapatkan bantuan dukungan membuat Pameran Nasional dan Internasional. Ke depannya Du’Anyam akan merencanakan memunculkan program Social Creativepreneur. Dimana memnafaatkan potensi beberapa wilayah untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya sendiri.”, tandasnya sebelum mengakhiri presentasi.

Direktur Yayasan Alfa Omega Kupang (YAO) – Pdt. David A. N. Fina memaparkan bagaimana YAO memulai inovasi produknya yang mencakup pemanfaatan bahan-bahan lokal untuk indistri kuliner, aspek pertanian organik, dan pengembangan kerajian tenun. YAO adalah lembaga non-profit sehingga banyak membantu masyarakat untuk memberikan pendampingan untuk melatih masyarakat dalam mengembangkan produksi lokal.

“Pada tahun-tahun ini NTT juga digemparkan dengan penemuan manfaat kelor. Sehingga kelor sekarang sudah diproduksi menjadi produk jajanan lokal seperti “marining jagung” dan juga cokelat kelor. Di Semau, NTT juga sudah diproduksi Ikan Asap. Kelompok binaan YAO mendapat pelatihan keterampilan dan inovasi produksi YAO melaui koperasi Perempuan YAO dan menyediakan kredit lunak untuk pengembangan usaha.”, tambah Pdt David sebelum mengakhiri presentasinya.

Share This Post