Memikirkan Ulang Pembangunan yang Berkeadilan Sosial dan Berperikemanusiaan

[Kupang, 4/12/2019 – Maria Goreti Ana Kaka] Ketua Presidium Nasional ISJN Andi Ahmad Yani, S.Sos., M.Si., M.PA., M.Sc. membuka Annual Conference on Social Justice (ACSJ) 2019 di Neo Hotel, Kupang, 4 Desember 2019.

Pembukaan dihadiri oleh sejumlah pihak, antara lain Anggota Komisi XI DPR RI Elnino M. Husein Mohi, ST., M.Si. (Anggota Komisi XI DPR), rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Dr Philipus Tulle, SVD, pengurus ISJN, presenter maupun anak muda dari berbagai kalangan.

Ketua Panitia, Dominggus Elcid Li dalam sambutannya menjelaskan bahwa keadilan sosial diangkat sebagai tema konferensi kali ini karena pembangunan yang ditandai dengan banyaknya investasi yang terjadi di negeri ini tidak lagi menganggap persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai hal utama.

“Kita berkumpul di sini untuk memikirkan ulang rekomendasi-rekomendasi untuk pembangunan yang berkeadilan dan berperikemanusiaan. Indonesia masih memiliki harapan jika warganya berdaya”, ujar direktur Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) ini saat memberikan sambutan.

Ketua Presidium ISJN dalam sambutannya menjelaskan bahwa ISJN adalah sebuah jejaring yang memiliki anggota lebih dari 320 orang alumni International Fellowship Program yang didanai oleh Ford Foundation. Anggota ISJN memiliki beragam latar belakang baik sebagai guru, akademisi, politisi, aktivis maupun peneliti.

Para Keynote Speakers dalam pembukaan ACSJ 2019

ISJN saat ini melakukan riset untuk mengukur kualitas keadilan sosial di Indonesia. Hasil sementara indeks keadilan sosial Indonesia akan dipresentasikan dalam ACSJ 2019. ACSJ sebagai salah satu agenda tahunan ISJN sudah dihelat sebanyak 3 kali. Sebelumnya ACSJ digelar di Gorontalo dan tahun ini Kupang menjadi tuan rumah.

“Ratusan alumni IFP yang tersebar di berbagai daerah menjadi sayap-sayap muda yang berperan untuk menanamkan nilai keadilan sosial dengan latar belakang ilmu mereka masing-masing” ujar Andi Ahmad Yani.

Andy menambahkan bahwa ISJN juga berupaya menumbuhkembangkan change making skill bagi anak muda yang diharapkan dapat diaplikasi anak muda dalam melakukan perubahan di lingkungan ketika melihat ketidakadilan sosial.

“Kita mengharapkan anak muda tidak hanya bisa menulis status di facebook, tetapi mampu membawa perubahan bagi lingkungannya, meski dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana”, tukas Andy sebelum mengakhiri sambutannya.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bertajuk “Membahas Ulang Perikemanusiaan dan Keadilan Sosial dalam Era Perang Dagang di Republik Indonesia” yang dimoderatori oleh Dominggus Elcid Li.

Penceramah kunci dalam diskusi ini antara lain Pdt. Ira Mangililo, Ph.D (Universitas Kristen Artha Wacana), Hendro Sangkoyo, Ph.D (School of Democratic Economics), Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D. (FEB UGM), Riwanto Tirtosudarmo, Ph.D (LIPI), dan Elnino M. Husein Mohi, ST., M.Si. (Anggota Komisi XI DPR).

Beragam pertanyaan, kritik dan saran bermunculan dari peserta seusai kelima pembicara menyajikan materi. Salah satu peserta, Ata Bire mengkritisi sejauh mana peran tokoh agama dalam menangani isu sosial di NTT.

Konferensi hari pertama akan berlanjut hingga pukul 16.00 dengan diskusi panel yang terbagi dalam dua sesi. Peserta dibagi dalam tiga kelompok diskusi untuk membahas topik utama Negara, Pendidikan, dan Kewarganegaraan, Menuju Pendidikan Inklusif, Menakar Ulang Keadilan Sosial dan Memahami Kerentanan, Kesehatan, Masyarakat, dan Kebijakan Publik serta Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial.

Share This Post