Solusi Air Bersih untuk Kota Kupang

Oleh: Riswanda Putri

Persoalan air di Kota Kupang memang merupakan isu yang tak henti-hentinya diperbincangkan. Sayangnya, isu ini menjadi isu musiman saja yang tak pernah dicari jalan keluar konkritnya. Setiap musim panas, isu ini selalu di bahas. Namun, seiring datangnya musim hujan, isu ini seakan luntur dan terbasuh begitu saja. 

Dalam Semiloka berjudul “Menemukan Solusi Air Besih Kota Kupang”, peneliti IRGSC, Lodimeda Kini menyampaikan bahwa warga Kota Kupang menghabiskan 17 hingga 40 persen penghasilannya untuk membeli air. Sumber-sumbernya beragam, mulai dari pipa-pipa milik PDAM yang jalannya ‘senin-kamis’, air tangki, sumur-sumur pribadi, dan depot-depot air minum. Untuk air yang mengalir tanpa kenal waktu, masyarakat di Kota Malang hanya menghabiskan maksimal 10 persen penghasilannya. Sementara itu, penduduk kota Amsterdam menghabiskan tidak lebih dari 2 persen penghasilannya untuk membeli air.

Peneliti IRGSC, Lodimeda Kini, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Semiloka “Menemukan Solusi Air Bersih di Kota Kupang” yang diselenggarakan PDAM Kupang dan Pemerintah Kota Kupang
(Photo credit: Riswanda Putri)

Masalah kelembagaan yang tak henti-hentinya dibahas adalah adanya dualisme yang terjadi pada pengoperasian distribusi air minum di Kota Kupang. Dua lembaga operator tersebut adalah PDAM Tirta Lontar yang dikelola Pemerintah Daerah Kabupaten Kupang dan Tirta Bening Lontar yang dikelola Pemerintah Kota Kupang. Masalah kelembagaan ini seakan menghadapi jalan buntu tanpa solusi yang konkrit. Proses pengalihan aset pun melibatkan tarik ulur yang alot. Kabupaten Kupang memiliki setidaknya 23.000 Sambungan Rumah (SR) yang beroperasi di Kota Kupang. Sementara itu, PDAM Kota Kupang hanya melayani tidak lebih dari setengah jumlah SR milik PDAM Kabupaten Kupang. 

Lodi Kini, menekankan bahwa warga Kupang tidak pernah menanyakan apakah air yang mengalir ke rumahnya berasal dari PDAM Kota Kupang ataukah PDAM Kabupaten Kupang. Hanya satu hal yang mereka peduli: air mengalir tanpa perlu ‘mete air’.

Masyarakat tidak lagi bisa menunggu. Keputusan dalam menggunakan air bukanlah keputusan yang diambil setiap lima tahun sekali seperti kontestasi politik kepala daerah. Keputusan membeli dan menggunakan air merupakan keputusan yang diambil setiap hari. Rumah-rumah yang mulanya tersambung pada SR PDAM Kabupaten Kupang banyak yang tergiur untuk tersambung kepada SR PDAM Kota. Namun, ketidakpastian aliran air SR PDAM Kota pun tidak jauh berbeda. Alhasil, kita tidak bisa menutup mata bahwa tangki-tangki air milik swasta yang akan menjadi pemenang dalam penyediaan air minum. 

Oleh sebab itu, pengoperasian bisnis air tangki memerlukan pengaturan yang baik. Salah satu jalan yang bisa ditempuh oleh pemerintah Kota Kupang adalah dengan menjadikan bisnis ini sebuah operasi semi-publik. Dengan demikian, harga dapat diatur dengan lebih baik. Selain itu, pengaturan memberikan kemungkinan untuk mengantisipasi memburuknya kondisi air tanah yang terus menerus diabstraksi secara tak terkendali. Tidak bisa dipungkiri, bahaya mengintai di balik bisnis tangki air swasta yang menjamur di Kota Kupang. 

Bicara air bersih tidak bisa terlepas dari bicara mengenai air kotor. Apalagi jika sumber air bersih kita sangat bergantung terhadap air tanah. Saat ini lebih dari 75% air yang dikonsumsi oleh rumah tangga terbilas ke laut oleh karena buruknya sistem pengolahan air limbah Kota Kupang. Selain itu, pada saat ini kita menggunakan air dalam kualitas terbaiknya untuk segala kegiatan rumah tangga yang sebenarnya memerlukan air dengan kualitas yang berbeda-beda. Contohnya, air untuk minum ternak mengairi tanaman tidak memerlukan kualitas yang sama dengan air untuk memasak, mencuci dan mandi. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menaruh sedikit perhatian untuk mendaur ulang air pada skala rumah tangga. Dengan demikian, kebutuhan air dapat ditekan dari hilirnya.

Selain itu, menaruh perhatian pada air limbah berarti menjaga kestabilan siklus hidrologi. Apalagi pada saat ini air tanah merupakan sumber harapan pemenuhan kebutuhan air minum di Kota Kupang. Artinya, penurunan muka air adalah bahaya yang tak terhindarkan jika air limbah dibuang begitu saja ke laut. Kedua poin inilah yang disampaikan oleh Lodimeda Kini pada Semiloka yang dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Agustus 2019. Ia menyampaikan bahwa masalah kelembagaan memang menjadi hal penting yang harus diselesaikan. Namun, kita tidak bisa hanya terus menerus menunggu. Langkah-langkah konkrit yang sesuai dengan realitas penyediaan air bersih di kota Kupang haruslah diambil dengan cepat. Kegiatan Semiloka yang diselenggarakan di Hotel Neo-Aston, Kupang, ini melibatkan peserta dari kelurahan-kelurahan di kota Kupang, para akademisi, dan perwakilan kemahasiswaan dari beberapa perguruan tinggi di kota Kupang.

Share This Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *