Menggagas 1001 Agenda Riset untuk Nusa Tenggara Timur

Dalam 50 tahun terakhir ini, pengetahuan tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dapat diakses (jurnal dan buku-buku yg berkualitas) seringkali diproduksikan di luar NTT dengan setting penelitian yang diatur dari luar NTT. Riset-riset tentang NTT yang diproduksi oleh lembaga dan ilmuan lokal cenderung tidak bisa diakses. Sedangkan untuk mendapatkan data-data tentang NTT, para peneliti lokal harus bersusah payah untuk mencari uang untuk membayar BPS. Praktis data, pengetahuan dan informasi tentang NTT menjadi monopoli rekan-rekan dari luar NTT. Pengetahuan tentang NTT oleh dan dari NTT menjadi sangat terbatas. Kami saat ini mencoba merumuskan agenda penelitian yang tidak dirumuskan dari menara gading di universitas maupun para elit NTT. Kami juga menghindari bertanya dari jauh – dari Europe, Australia, USA, Jepang hingga Indonesia (Jawa, Jakarta) tentang NTT, oleh generasi muda NTT, kami bertanya dari NTT: Kepada para Flobamoranesis (segala kalangan) dan peneliti NTT:  Kami mengajukan meta-pertanyaan sebagai berikut:  

What kinds of questions to be asked?
What kinds of knowledge need to be produced in East Nusa Tenggara?
What questions have been asked and can we have better questions to be asked?

Siapa yang menentukan apa pertanyaan penelitian tentang NTT? Mengapa? Mengapa produksi pengetahuan tentang NTT harus selalu datang dari luar? Mengapa tidak kita bangun 1001 agenda penelitian untuk NTT yang berasal dari NTT dan oleh NTT dengan visi membagi pengetahuan bagi Indonesia dan dunia?

Aktivis dan intelektual publik bicara tentang kedaulatan pangan, kedaulatan benih dan kedaulatan pengelolaan sumber daya. Tetapi bila kerangka kerja serta kerangka pikir hingga terminologi tidak berdaulat, maka mimpi tentang kedaulatan pangan serta segenap kedaulatan yang diimpikan hanya angan-angan. Bila rasa ingin tahu kita harus dibentuk oleh insentif dari luar semata, maka tidak mungkin terjadi inovasi sosial yang home grown.

Nusa Tenggara Timur berada di persimpangan jalan. Sementara tertatih paling belakang menurut index pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Sejak lama, NTT seolah menjadi beban bagi Indonesia baik dari sisi anggaran, sumber daya hingga ide tentang bagaimana NTT harus diselamatkan dari kemiskinan, kurang gizi, degradasi kualitas lingkungan, rendahnya kualitas politisi NTT (lokal dan nasional). Kami dari Institute for Resource Governance and Social Change memandatkan dan mengabdikan diri untuk memikirkan grand research agenda untuk NTT dengan pendekatan multi dimensi dari perspektif institutional economy, geography, development studies, sociology (political and environmental sociology), cultural anthropology, cultural ecology, health, development economics, political science, dan sebagainya.  

Agenda riset dapat meliputi pendekatan trans-disciplinary riset yang bertumpu pada harapan bagaimana mempercepat perubahan dan jalur pengetahuan serta ‘ruang dialogis’ antara produsen dan konsumen pengetahuan. Desain riset seperti apa yang dapat menjawab secara lebih cepat perubahan di tingkat akar rumput?

Saat ini kami (IRGSC) sedang berkonsultasi dengan para birokrat, aktivis komunitas akar rumput, agamawan, media, maupun para intelektual NTT yang berada di NTT (Kupang, Maumere, Ende, Kefa, Ruteng, Manggarai, Larantuka, Atambua, Rote, Alor dan Sabu) maupun para diaspora NTT di Jakarta maupun yang berada di luar negeri seperti Australia, Inggris, Belanda, Jerman, USA, Jepang, Singapura, dan sebagainya. Masukan Anda akan membantu kami memikirkan ulang agenda riset tentang NTT dan kontribusinya pada transformasi sosial Flobamora. Mengapa kami melibatkan Anda? Pertama, kami mau membangun tradisi riset di mana tuntutannya datang bukan hanya berasal dari peneliti yang hidup di menara gading dengan ‘kesucian hampa’ akademikus, melainkan sebuah tuntutan yang berasal dari subyek-subyek dan komunitas-komunitas Flobamoranesis yang dilahirkan maupun diadopsi oleh ibu pertiwi.  

Ingat, kami bertanya dari NTT {kali ini bukan dari luar}   

Apa pertanyaan terkait NTT yang perlu dijawab (bisa pertanyaan penting dan urgent; kurang urgent tapi sangat penting bagi NTT di tahun 2050)? Apa pengetahuan yang perlu diproduksi bagi NTT oleh NTT dari NTT? Apa  pertanyaan-pertanyaan yang sudah diangkat dan apa saja pertanyaan pertanyaan yang lebih berkualitas yang perlu dijawab?

Anda bisa mengirimkan kepada kami di email berikut: elcidli@irgsc.org, irgsc@irgsc.org, jonatan.lassa@irgsc.org.

Share This Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *