Pernah anda bermimpi menjadi ilmuan dan penemu teori alam semesta? Atau pernah anda bermimpi menjadi ilmuan besar
namun berakhir menjadi ‘pendeta biasa’ (atau ‘guru biasa’) di daerah pelosok sekitar pegunungan Mutis ataupun di pegunungan
Sumba Barat? Apakah itu berarti akhir dari mimpi anda mengakhiri pergulatan ilmu pengetahuan? Tidak bagi Robert Evans.

Robert Evans menjawab melalui penemuan-penemuan penting di sela-sela kesibukannya sebagai pendeta. Ia seolah berpacu di
dalam waktu mendahului para ilmuan di Eropa dan Amerika Utara. Robert Evans dikenal sebagai pendeta di waktu siang dan
atronom di waktu malam adalah contoh nyata bahwa menjadi pendeta di selatan bumi (80km dari Sydney - Australia) yang jauh
dari sumber-sumber utama pengetahuan antariksa di Utara tidak harus berarti akhir dari menjadi penemu. Amatiran atau
professional, itu bukan soal.

Bagi jutaan pendeta lain dan manusia lainnya, melihat ke arah bintang kerlap-kerlip mungkin saja berarti melihat keindahan alam
semesta. Lain bagi Evans, berbekal teleskop amatiran 16 inch, dia mempelajari pola bintang-bintang di langit dan menemukan
masa lalu, menemukan bintang-bintang mati dan sejarah alam semesta. Sebagaimana manusia, bintangpun hidup lalu mati. Ia
mengejar supernova, fenomena bintang raksasa berukuran lebih besar dari matahari dalam tata surya kita yang tiba-tiba runtuh
dan terjadi ledakan yang melepaskan energy berlipat ultra besar dibanding matahari.

Evans menemukan lebih dari 30 Supernova di awal tahun 2000 secara visual dengan teleskop sederhana. Sepuluh temuan
Supernova sejak tahun 1981, Evans hanya menggunakan teleskop 10 inch (25cm).  Tahun 2005 menandai 50 tahun konsistensi
hobi memburu Supernova, dengan demikian Rober Evans membukukan lebih dari 40an penemuan dan itu setara 11,000-12,000
jam belajar.

Orang bertanya mengapa Evans begitu bertalenta? Saya mencatat, Evans melatih diri dengan sedikitnya 8000 jam belajar
astronomi sebelum pertemuan pertama tahun 1981 (asumsi 110 hari pengamatan pertahun dengan 2-3 jam pengamatan). Yang
jarang dicatat dalam berbagai buku termasuk oleh Bill Bryson, penulis tersohor terkait ilmuan, adalah bahwa ketekunan mencari
dan mempelajari astronomi dilakukan Evans kurang lebih 25 tahun sebelum penemuan pertama.

Evans memberikan petunjuk yang menguatkan hukum sukses 10,000 jam. Bila anak anda mau menekuni matematika hingga
10,000 jam, maka ketika mencapai titik itu, kemungkinan besar ia menjadi ahli atau professor matematika level dunia. Bila hanya
5000 jam belajar, itu mungkin berakhir menjadi tutor matematika di universitas kecil yang jarang didengar. Bila hanya 2500 jam
belajar, besar kemungkinan anak anda hanya menjadi guru les matematika di Kota Kupang.

Kutipannya yang paling saya sukai adalah “ketiadaan bukti adalah sebuah bukti,” hasil refleksinya dari upaya mengejar
supernova yang seringkali berakhir pada tidak menemukan apa-apa namun memberikan waktu bagi peneliti bintang memahami
perilaku semesta angkasa.

Orang bertanya, mengapa tidak ada orang NTT menjadi ilmuan tingkat dunia? Jawabannya bukan pada tidak ada orang pintar,
tetapi pada fakta bahwa belum ada orang NTT mau menekuni ilmu menurut hukum 10000 jam.

Evans memang diperkenalkan bapaknya pada astronomi ketika berumur 10 tahun. Itu mirip masyarakat kelas menengah NTT
membeli laptop atau computer bagi anak-anaknya dan berharap menjadi pintar. Soalnya bukan pada memiliki laptop tetapi
bagaimana seperti Evans, menjadikan alat menjadi kuda dalam berpacu meraih pengetahuan baru.  Orang pintar itu diciptakan
dan tidak pernah dibawa sejak lahir. Rahasianya bukan rahasia: bila tidak banyak yang anda cari, tidak banyak yang anda
dapatkan.
Pendeta Evans dan Temuan Bintang Mati

Oleh: Jonatan Lassa
(30 June 2013)
[Tulisan ini dipersembahkan kepada IB, seorang teman masa SMA yang memutuskan jadi guru di daerah terpencil di NTT
dan merasa mimpinya menjadi seorang ilmuan telah pupus]
Blog