Politik Polonez a la Timor: Menuju Pesta Demokrasi 2014 [PK 12/03/14]

Jonatan A. Lassa*

Bila Pemilu adalah pesta demokrasi, lalu siapakah tuan/nyonya pestanya? Lalu siapakah undangannya? Munculnya wacana kriminalisasi Golput, membuat suasana pesta seolah sebuah ajang yang tidak lagi bersifat sukarela. Ini merusak pesta! Bila tuan pesta adalah Negara dan partai politik, maka kualitas hidangan pesta seharusnya para caleg yang berkualitas, bukan sekedar pamer di Facebook dan Spanduk-Spanduk, tetapi yang memiliki visi perubahan menuju NTT yang lebih baik, yang perempuan-perempuannya tidak dijual oleh bandar-bandar pedagang manusia yang “mencuri suara” dalam pesta demokrasi. Lalu apa musik pengiring dan jenis dansa yang akan dipilih dalam proses pesta tersebut?

Kurang lebih tahun 1500an, Kupang baru saja menjadi cikal bakal pelabuhan. Kurang lebih 500an tahun kemudian, Kupang menjadi kota, yang walaupun mulai bersolek dengan kotak-kotak ruang bernama Ruko, Ia selalu di manjakan Republik dengan triliuan Rupiah yang mengalir tiap tahun. Kota inipun sering berpesta, mulai dari wisuda para calon sarjana pengangguran, perkawinan hingga selebrasi politisi dan birokrat yang mendapatkan ‘berkat’ dadakan hasil ritus transaksi pembangunan.

Pesta tidak harus berkonotasi negatif. Toh, di kampung-kampung (dulu dan sekarang) selain fungsi sosial, ekonomi dan politik, fungsi tambahannya masih sama yakni pusat distribusi protein dan lemak bagi kaum papa yang beruntung diundang tuan dan nyoya pesta.

Yang menarik dari fenomena khas pesta di Kota Kupang adalah dansa atau tarian bernama Polonez (Polonez, Poloinase). Tarian ini sering disebut dansa berjalan yang berpasangan dan terdiri dari beberapa pasangan membentuk gerakan indah. Sulit rasanya mendapatkan pesta pernikahan di Kota Kupang hingga berbagai daratan Timor tanpa Polonez. Terasa tawar bila pesta-pesta besar terutama pesta pernikahan melewatkan polonez.

Polonez adalah salah satu dari 5 tarian nasional (dari ribuan tarian) Polandia yang bertahan lama. Polonez lahir di tahun 1500an. Awalnya, dansa ini terkonstruksi secara sosial sebagai sesuatu yang mulia dan spiritual yang dikhususkan untuk pesta para bangsawan. Di tahun 1573/1974, Polonez menjadi tarian formal baris-berbaris dalam pelantikan Raja Perancis Henry Valois yang terpilih menjadi raja Polandia.

Namun tahun 1600an, Polonez menjadi tarian rakyat untuk semua kalangan di Polandia. “Teknologi” gerak tari ini kemudian ‘berjalan’ melintasi batas negara. Tahun 1700an diperkirakan terlihat di adopsi dalam pesta-pesta di Jerman, Rusia dan Perancis. Istilah pasarannya diadopsi dari Bahasa Perancis Poloinase.

Entah kapan Polonez masuk ke Timor. Bila diasumsikan bahwa di Polonez mulai tersebar di Eropa tahun 1800an, maka Belanda mungkin yang membawa Polonez ke Tanah Timor Barat dan Portugal yang membawa ke Tanah Timor Leste. Juga sulit membayangkan lagu dan musik yang menyertainya di era Belanda di Timor tahun 1800an-1900an awal.

Historian Musik Eropah seperti Cwięka – Skrzyniarz (2002) maupun Robin Rinaldi (2010) menuturkan bahwa di tahun 1800an, Komposer Musik mashyur seperti Beethoven, Handel dan Frederic Chopin menggubah lagu secara khusus untuk Polonez. Oleh Beethoven di tahun 1803 Polonese dicoba diiringi oleh Triple Concerto Op 56 yang diciptakan untuk disesuaikan dengan konsep lagu lambat. Jadi lagu-lagu datang dan pergi mencoba mengiringi Polonez dalam 500 ratus tahun terakhir.

Hari ini pun sulit membayangkan bagaimana Polonez didansakan di Timor tanpa Bantuan musisi Belanda – George Baker lewat Una paloma blanca yang baru muncul di tahun 1976. Orang Kupang generasi ‘kemarin sore’ mungkin merasa bahwa Polonez dan Una paloma blanca ibarat tulang dan daging yang kekal bersatu. Una paloma blanca memberi hidup pada gerakan tarian Polonez. Perkawinan antara Polonez dan Una paloma blanca ibarat anak perempuan dengan lelaki berusia 500 tahun dan menariknya di Kupang, ini terlihat indah. Sangat cocok.

Pertemuan dua hal ini adalah pertemuan beberapa hal besar. Pertama secara generasi, mereka berbeda 5 abad. Anda bayangkan akan terasa ganjil memainkan tarian Likurai dengan iringan Una paloma blanca. Bila lagu dan tarian adalah immortal (kekal), maka Polonez dari Polandia dicoba dikawinkan dengan berbagai macam lagu-lagu yang sengaja maupun tidak sengaja diciptakan untuk dipasangkan bersama, berpadu menjadi satu.

Kedua, secara filosofis, keduanya berbeda. Filosofis George Baker lewat Una paloma blanca berakhir dengan statement “Yes, No body can take my freedom away” [Ya, tak seorang pun yang dapat membawa pergi kebebasan saya]. Salah satu baitnya berbunyi demikian: “Suatu ketika saya kehilangan bagian saya; Suatu ketika, mereka memborgol saya; Ya, mereka mencoba mengambil kekuatan saya; Dan, saya masih bisa merasakan derita itu.” … Tetapi saya terbang melintasi gunung, tak seorangpun mampu merampas kebebasan saya”.

Dalam petikan Times Daily 6 February 1976, George Baker mengatakan bahwa inspirasi lagu datang dari mimpi seorang petani miskin Amerika Latin, yang bekerja keras tiap hari dan sering duduk dibawah sebuah naungan pohon dan bermimpi menjadi burung putih yang bebas terbang tinggi.

Una paloma blanca adalah soal mimpi pembebasan. Polonez akhirinya dibebaskan menjadi milik semua orang, semua bangsa. Gabungan Polonez dan Una paloma blanca dapat dimaknai sebagai sebuah ruang mental di mana mimpi (visi) tentang dunia (baca: Ruang) yang lebih baik bisa menjadi milik kaum-kaum kita yang terbelenggu kemiskinan dan kebodohan.

Di NTT, mimpi-mimpi petani sering diganggu dengan spanduk, baliho dan reklame berisi model-model Salon yang dirancang di Photoshop dan ditebar ke kampung-kampung. Mungkin, di Timor, petani-petani masih bermimpi munculnya Ratu Adil yang membebaskan mereka dari Kemiskinan dan pemiskinan. Sebagian mereka masih terus menunggu benih setelah 3-4 minggu hujan karena penguasa yang bermalas-malasan mengetuk palu persetujuan anggaran menjelang akhir tahun sehingga pengiriman benih terlambat dan tiba ketika hujan hampir selesai.

Di NTT, mimpi-mimpi orang kota adalah hanyalah soal memiliki pekerjaan tetap yang cukup untuk hidup yang juga ternyata jarang diciptakan.

Yang menarik, mereka yang bermalas-malasan itu tanpa malu-malu pasang baliho dan reklame. Di rumah mereka dan di hotel-hotel mereka berdansa Polonez diiringi Una paloma blanca. Kampanye-kampanye bernuansa pesta kampung untuk menarik suara mengalahkan segala akal sehat bahwa politik adalah altar suci yang layak bagi mereka yang bervisi dan bernilai luhur.

Memang, anda tak perlu heran. Antara apa yang dinyanyikan, didansakan baik di pesta, di gereja maupun di upacara pengibaran Merah Putih, semua yang diucapkan hanyalah kata-kata, bunyi dan gerakan tanpa arti nyata. Politisi tanpa konsep, tanpa agenda perubahan adalah benalu demokrasi.

Tahun bertemu tahun, pemilu bertemu pemilu, rakyat tetaplah rakyat yang terus ‘disiksa’ dengan janji-janji. Tahun ketemu tahun, rakyat hanya diperhadapkan pada birokrat dan politisi yang berperingai zombie: memakan apa saja, termasuk harta dan nyawah si miskin. Dalam pemilu yang lalu, yang kampanye “Katakan tidak pada korupsi” adalah yang menjadi koruptor ulung. Mereka menjadi tuan pesta yang anggara pestanya dari hasil curian uang rakyat.

Salah seorang teman bertanya, mengapa sebelum berkantor di gedung-gedung berlambang Garuda dan Merah Putih, orang-orang masih menjadi manusia yang menjanjikan. Tetapi begitu masuk gedung-gedung tersebut, kita begitu sulit membedakan apakah mereka zombie, vampire atau manusia. Entah apa yang terjadi dalam ruang-ruang penguasa. Interpretasi yang lain adalah bahwa tiap politisi memiliki modal dasar zombie. Ruang-ruang penguasa adalah semacam katalis yang mempercepat proses pembuktian bahwa politisi tanpa karakter dan integritas intelektual dan moral, adalah zombie yang niscaya.

Semoga rakyat mampu menciptakan vaksin penawar gigitan Zombie dan Vampire digedung-gedung yang dibiayai rakyat. Selamat datang 2014, Tahun Politik Panas a la Republik. Mari berpesta di hati dengan berdansa a la Polonez. Berharap Indonesia semakin baik dengan memilih mereka yang berintegritas dan berpengatahuan.

 

****

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *